Rendang Kerbau di Hari Lebaran

Oleh Kak Ian (Padang Ekspres, 10 Juni 2018)

Rendang Kerbau di Hari Lebaran ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Rendang Kerbau di Hari Lebaran ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Usai shalat Id di masjid terdekat Zul mengajak Rocky ke rumahnya. Rocky adalah anak pindahan dari Jakarta. Ia pindah karena ikut ayahnya dikarenakan bertugas di kota Padang itu. Jadi ia beserta keluarga pun ikut pindah. Sekolahnya pun ikut pindah pula.

ROCKY yang diajak Zul mengiyakan. Tapi lebih dulu ia berpamitan pada Ayah dan Ibunya. Usai itu baru ke rumah Zul.

“Memang ada apa di rumahmu, Zul? Bukankah sama saja seperti biasanya dengan yang lainnya saat merayakan Idul Fitri,” ujar Rocky saat mengikuti Zul dari belakang.

Rocky akhirnya mau diajak ke rumah Zul. Apalagi Rocky penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh teman sebangkunya itu. Sebenarnya ada apa di rumah Zul itu?

“Nanti kamu juga tahu, Ky,” ucapnya.

“Baiklah, aku sih menuruti kata kamu saja, Zul. Apalagi aku baru pindah di kota ini jadi tidak banyak tahu adat istiadat di sini!”

Setiba di rumah Zul ternyata sepi. Para penghuninya baik Ayah dan Ibu Zul tidak ada di rumah. Ternyata mereka ada di halaman depan surau terdekat dari rumah mereka.

Ayah Zul adalah ketua pengurus surau itu. Jadi apa pun Ayah Zul yang mengaturnya.

“Zul rumah kamu kok sepi padahal ini Hari Raya. Pada ke mana ya orangtuamu itu?” tanya Rocky keheranan.

“Tenang! Memang begini jika Idul Fitri di kampung kami, Ky. Biasanya para warga kampung berkumpul di halaman surau untuk menyaksikan pemotongan kerbau. Makanya aku ajak kamu ke sini. Oya, ini adalah kebiasaan adat kami setiap Hari Raya Lebaran selalu memotong kerbau. Dan kebiasaan itu kami sebut kabau sirah,” Zul pun menjelaskan.

Rocky hanya mengangguk kepala. Sekarang ia sudah tahu kenapa rumah Zul sepi. Ternyata semua menghadiri kabau sirah. Atau, penyembelihan kerbau. Akhirnya Rocky pun bertemu dengan ketua orangtua Zul.

“Ini Apakku! Apakku di sini menjadi ketua pengurus surau sini. Jadi semua apa pun kabau sirah diadakan Apakku yang bertanggungjawab,” ujar Zul sambil mengenalkan Rocky pada Ayah Zul.

“Aku Rocky, Pak! Teman sekelas Zul,” Rocky pun mengenalkan diri. Ayah Zul hanya mengumbar senyum.

“Ya, sudah kalian di rumah saja. Nanti kalau sudah selesai Ayah kembali ke rumah. Dan Rocky jangan pulang dulu ya sebelum ikut kebagian daging kabaunya,” Ayah Zul pun memberi pesan.

Zul dan Rocky akhirnya menunggu di rumah. Urusan memotong dan membagikan daging kabau itu urusan Ayah Zul yang mengurusinya.

Mereka akhirnya kembali ke rumah Zul untuk menikmat kue-kue lebaran. Sedangkan Rocky sangat senang karena ia bisa mengenal keluarga Zul yang ramah.

Tidak lama Rocky bersenda gurau dengan Zul di teras rumah datanglah Ayah dan Ibu Zul seusai acara kabau sirah. Mereka saat datang membawa hasil penyembelihan itu. Ada beberapa kantong yang dibawa oleh Ayah Zul.

“Maaf ya kalian menunggu lama. Tadi Apak repot sekali membagi-bagikan daging kabau dari penyembelihan tadi,” jelas Ayah Zul. “Oya, Rocky sudah dibuatkan minuman belum, Zul?” lanjutnya sambil melirik Zul.

“Sudah! Sudah, pak!” balas Rocky.

“Oya, ini nanti buat kamu ya, Rocky! Anggap saja ini berbagi keberkahan karena kita sudah menuju Hari Kemenangan. Inilah istiadat di kampung kami bila Idul Fitri selalu menyembelih kabau sebagai rasa bersyukur kita pada Sang Pecipta serta berbagi kebahagian pada warga di kampung ini,” Ayah Zul pun menjelaskan tentang kabau sirah pada Rocky.

Rocky yang diberitahukan oleh Ayah Zul akhirnya kini mengerti. Pantas jika tadi di rumah Zul terlihat sepi. Ternyata keluarga Zul sedang melihat acara kabau sirah.

Akhirnya mereka pun berbincang-bincang di teras. Cukup lama mereka ngobrol apalagi bicara tentang kepindahan Rocky ke kota Padang membuat topik hari itu semakin mengakrabkan keluarga Zul dan Rocky. Seakan-akan Rocky sudah memiliki saudara saja.

Usai mereka berbincang-bincang tiba-tiba Ibu Zul datang dengan membawa segala lauk-pauk untuk di makan bersama. Kebetulan saat itu makan siang pun sudah tiba. Apalagi Rocky pun belum makan sejak pagi hanya memakan kue-kue lebaran dan minuman manis saja.

Ternyata Ibu Zul menyajikan makan siang hari itu berupa rendang dari hasil penyembebelihan kabau di surau tadi. Saat rendang itu dibawa lalu disajikan di depan Rocky baunya sangat menggoda. Membuat Rocky makin lapar.

“Ini apa, Zul? Baunya sedap sekali…!” tukas Rocky saat melihat lauk pauk yang ada di depannya karena mengundang seleranya.

“Ini namanya rendang kabau. Rendang di sini khas kota kami, Padang. Jadi kalau mau rendang yang betul-betul sedap dan asli hanya ada di hadapan kamu itu. Coba saja kamu makan pasti ketagihan,” Zul pun menggoda Rocky.

“Boleh aku cicipi?” tanya Rocky.

“Silakan!” seru Zul.

“Iya, silakan saja, Nak! Itu jangan lupa nasinya disendok selagi masih panas,” timpal Ayah Zul.

Akhirnya Rocky menikmati rendang buatan Ibu Zul begitu lahap. Begitu juga Zul dan Ayah Zul yang sejak tadi mengurusi kabau sirah juga lahap. Mereka makan siang dengan hasil penyembelihan kabau hari itu. Mereka sangat menikmati kebersamaan.

Usai makan siang bersama Rocky pun pamit. Dikarenakan hari sudah cukup sore. Apalagi ia khawati Ayah dan Bunda mencarinya.

“Oya, aku pamit dulu. Sudah sore khawatir Ayah dan Bunda mencari aku, Zul,” ujar Rocky untuk pamitan pada Zul.

“Ya, sudah, tidak apa-apa! Tapi sebelum ini ada sedikit oleh-oleh hasil dari kabau sirah untuk kamu biar di masak sama Bunda kamu. Siapa tahu Bunda kamu bisa masak rendang seperti Amakku,” ucap Zul sambil memberi sekantong daging kabau.

“Terima kasih ya, Zul! Kamu dan Ayah serta Ibumu sangat baik padaku. Salam buat Ayah dan Ibumu ya. Aku banyak terima kasih,” jawab Rocky menerima sekantong daging itu.

Zul pun tersenyum. “Iya, sama-sama. Aku juga terima kasih atas kunjungan dari kamu!” pungkas Zul.

Hmm, kalau begitu besok kamu ke rumahku ya untuk menikmati khas makanan dari Jakarta, Apa itu? Nanti deh ya aku kasih tahu. Sampai besok aku tunggu kedatangan kamu. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih,” Rocky kembali berterima kasih.

Sejak itu Rocky pun menjadi akrab dengan Zul dan keluarganya. Pun dengan Zul juga akrab dengan Rocky beserta Ayah dan Bunda Rocky. Itu semua karena keberkahan di Hari Raya Lebaran di saat kabau sirah dilaksanakan hingga Rocky bisa menikmati rendang yang begitu sedapnya. Rocky pun akhirnya makin jatuh cinta dengan rendang masakan khas Padang yang mendunia itu. Rocky tidak begitu saja melupakannya. (*)

Arsip Cerpen di Indonesia