BEDINDE BLUES, 1, 2, 3

Puisi-puisi Beni Setia (Kedaulatan Rakyat, 24 Juni 2018)

Bedinde Blues ilustrasi Google
Bedinde Blues ilustrasi Google

BEDINDE BLUES, 1

 

selepas desar imsak, menjelang azan shubuh

lena menggema: mereka bergegas ke masjid

 

ambil shalat berjamaah. pada saatnya, nanti:

mereka akan mengantri masuk ke surga

 

—aku melulu mulai nyapu, nyuci, dan seterusnya—

 

“ada bonus kalau kau tidak ambil cuti lebaran…,”

Katanya—demi bebas dari apapun, demi full shaum

 

dan masuk surga. tapi apa ada surga bagi bedinde?

 

2018

 

BEDINDE BLUES, 2

 

Mungkin—ketika khidmat shubuh, serta rumah

menjadi sunyi—: Allah akan mengirim begal

 

yang enteng merampok, yang usil membunuh,

dan menjelang lebaran, di icu, malaikat bilang

“kamu tidak pernah salat dan shaum sih…”

 

apapun juga, neraka memang bagianku. mutlak

 

alangkah sunyi kemiskinan. dan, bahkan, dalam

tiada sempat istirahat dan memikirkan: semua

menggugat kealfaan untuk shalat dan shaum

 

di neraka, ketika bertemu kembali dengan begal,

kami berlinang air mata sebab tak pernah punya

sempat saat hidup di dunia—perih sekali…

 

2018

 

BEDINDE BLUES, 3

 

tak ada hp, tak mampu membelinya meski aku

kuasa membeli pulsa: aku memang tak ingin

dihubungi—apa lagi untuk mulai bekerja lagi

 

aku igin berlibur—tenggelam melupakan kerja

full. hp inpentaris dari majikan dimatikan—

aku ingin beristirahat. lelap di gubuk ladang

 

: sepanjang siang bermalas—lalu, menembus

senja, dengan bus yang dipesankan majikan:

mulai kerja dan melupakan harus total kerja

 

balik jadi perabot rumah tangga. abid abad xxi

 

2018

 

Beni Setia, pengarang. Email: benisetia54@yahoo.com.

Arsip Cerpen di Indonesia