Takbiran adalah malam yang ditunggu-tunggu. Kami, anak laki-laki ah, lelaki selalu lebih mujur ketimbang perempuan berebutan naik truk yang disediakan untuk takbir keliling. Sehabis buka, kami akan melompat dan berdesakan di dalam bak, berebut mencari tempat yang nyaman. Pilihan yang pertama-tama tentu saja bagian kepala truk.
Sepanjang jalan kami akan berpapasan dengan banyak mobil yang sama-sama takbir keliling. Kami menyiapkan pistol air yang diisi dengan pewarna. Tak jarang pula ada yang melempar batu yang kadangkala memicu perkelahian antar pemuda di malam baik itu.
Ketika aku beringsut remaja, urusan kami bukan lagi sekedar menyembunyikan sandal para jamaah, main petasan dan kerak lilin. Seiring usia, aku menemukan Ramadhan dengan ciri yang lebih manis dan elegan. Aku mulai mencari-cari celah untuk mendekati kawan perempuan. Sebelum taraweh kami bersiap-siap di luar masjid menunggu para dara masuk masjid dan duduk rapi untuk mengaji. Suara mereka yang lembut dan tenang mengalun dari toa, tersebar di sepanjang kampung.
Kami punya cara-cara sendiri untuk menarik perhatian, merayu bagai pejantan yang ingin kawin. Keberhasilan yang paling hebat tentu saja jika salah satu dari kami bisa menitipkan buku Catatan Agenda Ramadhan pada gadis pujaan.
***
Hari istimewa lainnya tentulah saat hari raya tiba.
Lebaran telah menyelamatkan kami dari hal-hal sederhana. Kami mendapat jatah baju baru, lemari rumah penuh dengan kue, ada sirup segala di meja makan. Kampung terasa lebih ramai, apalagi orang rantau banyak yang pulang.
Lalu hari raya memiliki kesan yang lebih berbeda ketika aku remaja. Kami bermain di keramaian yang terletak di tengah desa. Kami mulai menggoda anak dara yang juga berkelompok sambil terkikik malu-malu. Sebagian yang lain tentu mulai memiliki pasangan. Sepanjang tahun kami mulai kehilangan satu-dua kawan. Mereka yang sudah memiliki pasangan punya cara berlebaran yang sedikit berbeda. Tak selalu bisa bersama-sama. Saat itu kukira mereka telah menemukan makna Lebaran yang lain pula.
Tak ada yang bisa merasa gerak waktu. Aku dan kawan-kawan berebut besar. Sebagian meneruskan sekolah hingga SMA, sebagian yang lain menghabiskan waktu di laut dan muara. Sebagian menghilang ke tanah lain. Namun kami masih merasa debar yang sama ketika Ramadhan mulai berkunjung. Tapi itu tak lama, kami tak lagi mendapat jatah baju baru, tak lagi mengantongi pistol air dan bedil-bedilan. Di pundak kami mulai dikalungkan beban hidup dan tanggung jawab menjadi orang dewasa.