Kemudian aku, dan beberapa kawan yang lain, sehabis Lebaran itu, bersama orang-orang dewasa lainnya memilih pergi dari kampung. Rantau yang menjadi pilihan tentu tanah seberang.
“Aku tak bisa pulang Lebaran ini,” kata-kata itu akan mulai terdengar dari mulut para perantau. Sekali, dua kali dan bisa jadi lebih dari tiga Lebaran kami tak pulang. Usia dewasa telah melumat hal-hal paling manis dalam hidup. Kenangan manis yang hanya bisa dirasakan di hari Lebaran.
Di hari Lebaran ini aku mengenang mereka semua; orang-orang yang pernah masuk dalam hidupku. Kami tak selalu bisa bertemu meski di hari-hari besar semacam ini. Aku merindukan lagi masa kanak yang berdebar menunggu baju baru.
Aku merindukan masa remaja yang berdebar bersama dara pujaan di pesta pantai yang rutin diadakan sehabis lebaran.
“Aku tak cukup ongkos untuk pulang, Bu,” kataku pada ibu ketika meneleponnya di hari terakhir Ramadhan.
Di seberang ibu hanya menangis.
Aku hanya bisa mengenang ibu yang terlihat selalu muda di hari raya, bapak yang beberapa hari akan tetap tinggal di rumah, kawan-kawan dengan seragam warna-warni, ruang tamu yang penuh kue dan makanan.
Aku mengenang itu semua. Hanya bisa mengenang.
Indrian Koto, lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Taratak, kampung kecil di Pesisir Selatan Sumatera Barat. Menyukai sastra dan terus belajar mendalaminya. Lulusan Sosiolog UIN Sunan Kalijaga. Mengurus toko buku kecil jualbukusastra.com serta penerbitan kecil MK Books dan Penerbt JBS. Mengikuti program penulisan puisi Mastera. Buku puisi pertamanya yang sudah terbit: Pleidoi Malin Kundang (Gambang, 2017)