Sajak Kasih

Puisi-puisi Arif Tunjung Pradana (Suara Merdeka, 24 Juni 2018)

Sajak Kasih ilustrasi Google.jpg
Sajak Kasih ilustrasi Google

1

perjalanan pada serat-serat cahaya

membuat kita sepakat, saat

senja kecil tak lagi menatap kita

patah pada aksara

 

2

beberapa kata purna menggantung

pada langit-langit awan putih

berjalan beriringan, membawa cahaya

layaknya daun yang jatuh dari dahan

 

mengikuti jejak angin yang menggandeng

meniti udara, bersama

erat pada ruang kedap suara

matamu berkaca-kaca

 

3

kau menatapku kaca, malam ini

pada udara dingin yang mengenal takdir

redup matamu adalah debu

yang menebar hening pada ruangan tak kasat

 

4

kita saling mengenal tanda yang belum diakhiri

sebuah kalimat percakapan manusia

mengusut pada labirin untuk melepaskan diri

mengenalkan kita pada beberapa kata tua

 

pertemuan membuat kita menua, senja

semakin sempurna dalam hujan

dendam dalam wajah terasmu

tersapu rerintik butir hujan yang terseret

 

5

dalam kotak-kotak labirin yang rapi

kau berjalan mengitari empat sudut

mencari jawaban akan pertanyaan yang belum diajukan

/bagaimana bisa kita menciptakan keadaan nyaman?/

 

katamu pada ranting belukar yang mengering

mengepung lingkar kepala purba

saling membatasi ucapan perihal luka

/mulailah bertanya/

 

keadaan yang masih sama akan senantiasa menjawab

bahkan tanpa ditanya ia akan menjelaskan

tentang apa yang harus diterima oleh telingamu

/tentu kita ingin sebuah partitur merdu/

 

6

matahari mengerti

mengenang gerimis

pada sajak-sajak ini

kita tergenang

 

7

dalam ruangan ini

kau terperangkap antara sederet kata

menerka berbagai isyarat

perkara yang tak mau menua

 

daun-daun gitar yang kau petik sore ini

pada sela-sela jari yang memuat partitur doa

telah lama dalam ruangan tak bersuara

tergesa hinggap pada tiang-tiang teras

 

langkah kita lenyap mendidih

tak terdengar suara derap

yang mengambang

menghapus beberapa perkara

 

8

dadamu telah usai berdetak

terjatuh, menabrak, dan tumbuh

menjelma merpati putih

yang setiap waktu mengepakkan sayap

 

pada angin yang menggugurkan daun

saling menghitung mundur angka bias

terjatuh sendirian dan berhenti di luar waktu

menyusuri setiap ceruk kenangan

 

9

bayangan kita berlalu

terbang pada frasa

amanat yang digarisbawahi

oleh lengkung hujan

 

10

kau menceritakan makna

di pinggir kolam ikan

di bawah pohon angsana

yang kuciptakan sendiri

 

Arif Tunjung Pradana, lahir pada 16 Juli 1997 dan besar di tanah kelahirannya Wonogiri, Jawa Tengah. Mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret.

Arsip Cerpen di Indonesia