Puisi-puisi Deddy Arsya (Koran Tempo, 30 Juni – 01 April 2018)

KELEDAI PIRANG
Serupa jelai, rumput liar dulu, kamu.
Tapi kini aku jinak serupa keledai.
Tanduk kerbau bisa dibuat lunak
kuda dapat diberi pelana dan tunak.
Tapi kadang aku meronta juga
jika terus kaupaksa: tunduk, takluk!
Melata, menghamba,
serupa itu mana bisa.
Tulang punggungku
lebih keras dari baja, tau.
Serupa gajah berbulu, dulu, kamu.
Tapi kini aku jinak serupa padi.
Menunduk, merunduk.
Tapi betulkah tanda berisi?
DI PANTAI BERSAMA AYAH
Di sini dulu pekuburan Cina. Di ujung sana, pekuburan Belanda. Barisan kedai kelontong dan gudang pala—arah ke selatan, kantor Jawatan Penerangan dan Sarikat Kebudayaan. Semua habis tersapu gelombang.
Kota ini memelihara ingatan singkat kampung halaman.
Sawah-sawah hanyut ke muara membawa sapi dan sehelai surat kuasa:
Kami memagang sepetak ladang. Lalu komunis berkuasa. Ladang itu dikembalikan ke pemiliknya. Ketika komunis habis ditangkapi, ayahku pergi ke kantor Koramil pagi-pagi sekali, mencari orang yang menyembelih kakak laki-lakinya, mematikan puntung rokok di telinga atau menebarkan garam pada luka yang ternganga. Setelah ini dendam dan kesumat akan hanyut ke muara, katanya pada kami, ketika:
Dia mencukur habis rambutku dan rambut kakak laki-lakiku. Bagai memangkas semua ingatan. Ibuku disuruhnya membuat gulai ayam terlezat yang bisa dibuat untuk merayakan:
Kami tidak akan punya sawah lagi setelah ini.
Pagang dan gadai telah ditebus lunas air bah dan revolusi.
PARTIKEL DEBU
Kami dirikan tiang di setiap jarak pandang:
gunung-gunung berpancangan, dan awan-awan bagai payung pualam.
Tapi kelak mereka akan serupa kapas dalam angin keras, katamu, lempung yang ringan-mengeras-dalam pusaran badai-topan.
Ledakan membahana itu, ledakan yang membuat engkau menjadi
hanya—partikel debu, hora, hora, engkaulah tuhan asalku kalau begitu?
Putih timah
kuning kilat
mayang
pada Bumi
sedatar loyang
—engkaukah itu?
Menyentak dalam pusaran noktah, mengikat diri, padamu, berpusar, pasir dalam matamu, lalu mengental, memintal.
Lalu aku, ke sini kaudamparkan, ke lempung keras ini.
Tapi seperti kapas hanya, katamu, semua itu: Gunung-gunung berpancangan akan lepas bertabrakan, awan-awan bagai payung pualam akan saling menghempaskan.
KOLAM UNTUK ANGSA-ANGSA
Tertidur dalam kelambu, sebuah kerai putih dipasang atasmu.
Selamat siang dan selamat malam, usia berlalu memburu bersiduru, tidak ada rasa dingin, panas debu, dan gerah pasir, atau embun kelabu yang akan membuatku melepas baju.
Kepada kuda-kuda kau berseru:
Makanlah rumput yang paling manis dan minum air yang paling murni, serta carilah kesegaran dari angin sepoi-sepoi dari segala penjuru!
Kepada sapi-sapi aku berseru:
Berdiamlah dalam kandangmu sampai musim ini berlalu!
Kehidupan rumah penuh sesak dan berdebu; sementara kehidupan di luar terbuka lebar, katamu. Kataku, udara terbuka membawa nyamuk-nyamuk malaria dan serbuk hitam demam tropika.
Kau menyebut, “Tanah asal tak ada dalam kamusku!”
Di kolammu ada teratai. Di kolam yang lain angsa-angsa, berkepakan.
Di kolam yang lain tumbuh kembang sepatu, bermekaran.
Aku tidak menggunakan sandal kayu yang bukan dari kampung halamanku. Kau menggunakan turban, tunik, pakaian bawahan, dan jubahmu, semuanya terbuat dari kain beludru.