Serangan Semut Hitam

Serangan Semut Hitam-1 ilustrasi Jos - Kedaulatan Rakyat

“Dasar semut bandel. Dasar semut bandel!” teriak Ibu sambil menggebuk-gebukkan sapunya ke lantai.

Setengah jam lamanya adegan itu berlangsung, semut berangsur-angsur hilang. Hanya di dalam penanak nasi saja yang sepertinya belum bisa hilang seratus persen. Sekarang Ibu menaruh penanak nasi itu di teras, menjemurnya di bawah terik sinar matahari pagi. Ibu berharap dengan dijemur, semut-semut itu keluar dan mendapat tempat berteduh yang lain.

“Ibu, kenapa tidak dicolokin ke listrik saja penanak nasinya? Biar semut-semut itu kepanasan. Sama saja dengan menjemur di bawah matahari, kan?”

“Ah, kalau kita sambungin ke listrik, nanti semut-semut ini mati keseterum. Kasihan, kan?”

“Ibu, kita sudah diserang semut seperti ini masih kasihan saja?”

“Eh, semut itu konon nggak boleh dibunuh, Sayang. Lihatlah, dia kecil tak berdaya, lagi pula semut itu buta. Mereka mana tahu kalau rice cooker kita ini masih kita gunakan. Jadi mereka tak bermaksud mengganggu kita. Mereka hanya membersihkan sisa-sisa makanan kita. Mungkin salah kita juga karena panci nasi dalam penanak nasi kita ini belum diambil dan dicuci. Padahal nasinya sudah habis, tinggal beberapa butir yang hampir mengering saja, kan? Semut-semut ini juga memperingatkan kita agar selalu bersih. Makanya sebisa mungkin jangan dibunuh, biar ada yang memperingatkan kita.”

“Ah, Ibu. Jadi, serangan semut-semut hitam tadi apa maksudnya?”

“Ya, itu, peringatan buat kita, Sayang. Makanya besok kalau habis makan langsung dibawa ke dapur ya, piringnya, sendoknya, juga peralatan yang sudah tidak dipakai. Semalam yang terakhir makan Tika atau bukan?”

“Baik, Bu. Tika besok tidak akan teledor lagi. Oh, ya. Tika juga akan menyayangi binatang termasuk semut.”

“Pintar anak ibu.” ***

Serangan Semut Hitam-3 ilustrasi Jos - Kedaulatan Rakyat.jpg

Arsip Cerpen di Indonesia