Serangan Semut Hitam

Oleh Arrum Lestari (Kedaulatan Rakyat, 01 Juli 2018)

Serangan Semut Hitam-2 ilustrasi Jos - Kedaulatan Rakyat.jpg
Serangan Semut Hitam ilustrasi Jos/Kedaulatan Rakyat

PAGI itu sekelompok semut terlihat mengerubungi penanak nasi. Tika berteriak memanggil ibunya. Ibu berlari dari dapur menuju meja makan. Panik melihat semut yang hampir menutupi seluruh permukaan penanak nasi, akhirnya Ibu mengambil sapu dan mengayunkan sapu ke atas permukaan mesin.

Apa yang terjadi?

Sekelompok semut itu seperti pecah berhamburan ke mana-mana. Mereka menyebar tak tentu arah. Seperti orang yang kehilangan tujuan, semua itu tampak mondar-mandir. Pokoknya asal mencari tempat pelarian yang aman. Ada yang lari ke kaki meja, ada yang lari ke piring lauk, dan ada juga yang langsung menuju lantai, menjauhi meja.

Bukannya hilang, sekarang semut-semut itu malah terlihat merata ke seluruh permukaan meja makan. Sebagian semut menjauhi meja dan sekarang terlihat seperti titik-titik hitam yang begitu banyak di lantai yang putih.

Ibu makin geram. Sekonyong-konyong disapunya semut-semut hitam itu, tapi mereka justru terlihat kalang kabut dan bolak-balik ke sana-ke mari.

Tika menjerit-jerit. Sebagian semut mulai menjalari kakinya. Gadis cilik itu mengibas- ngibaskan kakinya. Spontan ia naik ke kursi dekat meja makan untuk menghindari semut yang berlarian di lantai.

Semut-semut itu justru makin banyak yang mendekati Tika. Tika makin panik. la melompat ke lantai lalu berlari ke ruang tamu. Kembali ia mengibas-ngibaskan kakinya agar semut-semut hitam itu terjatuh dari kakinya. Yang terjadi, semut-semut bandel itu justru merambat ke atas sampai ke tubuh Tika, sampai tangan, leher, dan kepala.

“Ibu…, Ibu…,” Tika menjerit memanggil ibunya.

“Sebentar, Tika.” Ibu masih panik mengusir semut-semut yang kalang kabut itu dengan sapu. Dari meja makan dan ruang tengah semut itu sudah merambah ruang tamu. Ibu makin getol mengayunkan sapunya.

“Ibu…, Tika digigiti semut, Tika digigiti semut,” rengek Tika.

“Samaaa…, Ibu juga.” Ibu seperti tak peduli dengan dirinya. Ia terus-menerus menyapu semut-semut itu agar keluar melalui pintu. Tiap kali ada semut-semut yang berhasil disapu keluar, sebagian semut yang hidup kembali lagi ke dalam.

Arsip Cerpen di Indonesia