Empat Cerita

Tiga

Di zaman modern ini, kuota tak kalah pentingnya dengan makan. Benar kan? Nah, pada suatu hari aku ingin membeli kuota, seharga empat puluh ribu, sebesar dua giga. Memang biasanya aku membeli kuota seharga itu. Dalam ceritaku ini, aku mengambil latar kala aku masih mengenakan seragam putih abu-abu.

Aku tak punya uang. Aku pun kemudian ingat dengan uang yang kukumpulkan di celengan jagoku. Aku mengeluarkan satu per satu uangnya. Receh semua. Lima ratus semua. Ternyata jumlahnya hampir menyentuh angka empat puluh ribu atau tiga puluh sembilan ribu lima ratus. Artinya kurang lima ratus. Aku pun mencari uang lima ratusan untuk menggenapi uang itu.

Yang pertama, aku melangkah kejimpitan. Di sana hanya ada dua ratus rupiah. Uang itu tak kuambil. Lalu aku bertanya kepada ibu, apakah punya uang lima ratusan? Ibu menjawab tidak punya, punyanya seribuan. Tapi?

Aku tak mau. Aku maunya lima ratusan. Seluruh sudut rumah kuobrak-abrik. Aku tak menemukan uang lima ratusan. Padahal biasanya, banyak. Memang seperti itu, kalau kita sedang tidak membutuhkan barang yang kelihatannya sepele, ia memperlihatkan dirinya. Namun ketika sebaliknya? Ia kerap menghilang entah ke mana.

Aku menelepon kekasihku—ceritanya aku punya pacar. Ia bilang, tak punya uang lima ratusan. Konyol bukan, sampai aku menghubungi pacar?

Aku sudah mencari ke mana-mana, sampai ke penjuru kota, uang lima ratusan tetap tidak ada. Lalu? Ya, tidak pakai lalu. Sampai di sini saja, ceritaku tentang aku yang menginglnkan uang lima ratusan.

Empat

Imel, selanjutnya tentang senjata Kontawijaya. Senjata yang sebenamya ingin digunakan Adipati Karna untuk membunuh Arjuna. Tapi dikarenakan Gatotkaca terus menerus menyerang Adipati Karna dalam pertempuran Baratayuda, akhirnya ia menggunakannya. Sebelum Kontawijaya melesat. Gatotkaca sempat membelah dirinya menjadi seribu. Akibatnya Adipati Karna kebingungan, mana Gatotkaca yang asli. Ia pun meminta pertolongan kepada Batara Surya.

Setelah diberi petunjuk Batara Surya, ia melesatkan Kontawijaya ke arah Gatotkaca yang asli. Namun kesatria yang mendapat julukan otot kawat balung wesi itu terbang setinggi-tingginya. Kontawijaya tak dapat menjangkau Gatotkaca. Tapi tiba-tiba arwah Kalabendana—Kalabendana mati di tangan Gatotkaca, ia tak sengaja membunuh—muncul, menangkap Kontawijaya. Ia mendekat kepada Gatotkaca, menyampaikan berita dari kayangan bahwa ajal Gatotkaca ditetapkan sekarang ini juga. Gatotkaca pun pasrah. Tapi?

Arsip Cerpen di Indonesia