Empat Cerita

Kalabendana tiba-tiba saja ingat dengan koruptor-koruptor yang begitu merajalela di negeri kita. Kalabendana berkata kepada Gatotkaca. “Tetaplah di sini, aku akan pergi sebentar.”

“Katanya aku akan mati sekarang juga?”

“Iya. Aku pergi, bukan berarti senjata ini tak jadi membunuhmu.”

Kalabendana pun pergi ke negeri kita, membawa Kontawijaya secepat kilat. Dari awan ia melihat rakyat-rakyat yang kumuh di negeri kita. Tidak hanya itu, ia melihat rakyat jelata yang dicekik lehernya oleh kemiskinan. Perut-perut mereka menjerit, mulut-mulut mereka terus disuapi dengan janji-janji.

Satu per satu, oleh Kalabendana para koruptor itu dihabisi dengan Kontawijaya, dengan cara meluncurkan senjata itu ke perut koruptor-koruptor secepat kilat. Imel, kukira ini adalah cara yang jitu untuk menumpas para koruptor, karena pemberanlasan korupsi di negeri kita sedari dulu hingga sekarang, terus saja ela-elu.

***

“Nah bagaimana Imel ceritaku ini?” tanyaku, tak sabar mendengar komentarnya.

“Kenapa cerita yang keempat harus begitu? Kenapa Kalabendana harus membunuh para koruptor dengan Kontawijaya?” tanyanya, wajahnya menunjukkan tidak senang. Ia meletakan lembaran kertas yang dipegangnya di meja.

“Kenapa? Kok pertanyaanmu seperti itu?”

Sebuah lagu terdengar di telingaku. Lagu itu bersumber dari ponsel Imel. Ada orang yang menelepon Imel rupanya.

“Permlsi, aku pergi dulu. Ada urusan yang harus kuselesaikan,” katanya setelah berbincang-bincang dengan seseorang di telepon. Wajah Imel masih keruh. Sementara suasana kafe tidak terlalu ramai.

Seperginya Imel aku bertanya-tanya, “Ada apa dengan cerita yang keempat?” Imel terlihat begitu membenci. Tiba-tiba aku ingat, tentang siapa Imel. Apakah ia seorang…. ***

 

Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) ini alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Bermukim di Pleret, Bantul, Yogyakarta.

Arsip Cerpen di Indonesia