“Mah kalo seenggaknya nggak bisa gak usah masak daripada buang-buang bahan masakan kaya gini! Mamah masak sup apa bikin teh manis sih?! Kenapa supnya malah kemanisan gitu.”
“Maaf, Mika, mamah kira tadi ini garam bukan gula,” ucap lbu Mikaila penuh penyesalan.
Mikaila menghela napas kasar. “Udahlah kita pesen makanan aja. Dan ini terakhir kali mamah masak karena besok Mika mau nyari pekerjan yang buat bantu-bantu mamah.”
Saat Mikaila akan memesan makanan, suara ketukan pintu kamamya terdengar. Mikaila membuka pintu kamamya dan melihat ibunya yang sedang memegang sebuah kotak.
“Mamah minta maaf Mika karena mamah tadi udah bikin kamu kesal. Ini mamah punya hadiah buat kamu,” lbu Mikaila menyerahkan kotak itu kepada Mikaila. Mikaila mengambil kotak itu dengan mata yang berkaca-kaca. Ibunya yang melihat Mikaila akan menangis segera memeluk Mikaila. Mikaila membalas pelukan ibunya lalu air mata yang tadi ia berusaha tahan keluar dengan derasnya.
“Mah Mika ngantuk mau tidur.” Mikaila melepas pelukan ibunya. “Makasih buat hadiahnya mah. Goodnight.”
“Goodnigt too.” lbu Mikaila kembali ke kamarnya.
Mikaila menutup pintu kamarnya lalu membuka kotak hadiah pemberian ibunya. Sepasang high heels berwarna hitam. Mikaila hanya bisa tersenyum sedih lalu menyimpan kotak itu ditumpukkan kotak yang sama.
Ibunya sudah sering memberi hadiah yang sama kepada Mikaila. Dan ini sudah ke-21 ibunya meniberi hadiah yang sama. Mikaila membaringkan tubuhnya ke kasur, matanya fokus melihat kotak-kotak itu. Tidak lama air matanya keluar dan isakan kecil mulai keluar dari mulutnya. Mikaila ingat dengan ucapan dokter pada tadi siang.
“Itu gejala penyakit Alzheimer, Ibu Mikaila.” Ucap Dokter Sean dengan hati hati memberi pengertian kepada Mikaila.
“Maksudnya?” tanya Mikaila.
“Seperti yang tadi lbu Mikaila bilang kalau lbu Anda selalu memberi hadiah yang sama kepada Anda dan itu terjadi berulang kali bahkan ibu Anda sendiri tidak ingat kalau telah memberikan hadiah itu pada Anda. ltu adalah gejala Alzheimer. Risiko pengidap Alzheimer meningkat seiring dengan pertambahan usia. Anda harus bersyukur karena beliau masih mengenali Anda sebagai anaknya. Karena yang mengidap penyakit Alzheimer akan melupakan nama orang orang terdekat mereka. Jadi selama beliau masih mengingat nama Anda, sebaiknya Anda terus berada di samping beliau.” Dokter Sean menyerahkan kertas resep kepada Mikaila. Setelah mengucapkan terima kasih Mikaila keluar dari ruangan Dokter Sean dengan perasaan campur aduk.