Mikaila terus menangis sampai ibunya datang ke kamarnya karena mendengar suara tangisan Mikaila. Ibu Mikaila duduk di pinggir ranjang Mikaila sambil mengusap kepala Mikaila. Mikaila yang merasakan usapan pada kepalanya lalu menoleh kepada ibunya dan segera memeluk ibunya.
Mikaila terus menangis sedangkan ibunya hanya bisa mengelus punggung Mikaila menenangkan Mikaila. Setelah tangisan Mikaila reda, ia segera melepas pelukan dari ibunya lalu mengusap pipinya yang basah karena air mata.
Mikaila berusaha tersenyum, “Mika nggak papa, Mah. Mamah balik lagi aja ke kamar.”
“Bener nggak pa pa?”
Mikaila menggangguk.
“Mamah ke kamar kalau gitu. Jangan nangis lagi, Nak.” Ibu Mikaila mencium kening Mikaila lalu keluar dari kamar.
Mamah kayak high heels yang selalu Mika pake. Selalu melengkapi penampilan Mika dan selalu Mika butuhkan, tapi sayang lama kelamaan pakai high heels bikin kaki. Walaupun Mika ingin ngelepasin terus ngelemparin high heels yang Mika pakai, tapi Mika nggak bisa karena high heels yang Mika punya berharga. Layaknya mamah yang selalu melengkapi kekosongan Mika dan selalu Mika butuhkan tapi sayang dengan adanya penyakit mamah, yang lama kelamaan bakalan lupain nama Mika bahkan kenangan kita, harus Mika tahan harus Mika hadapi. Waiaupun Mika ingin menyalahkan mamah, membentak mamah karena penyakit yang mamah derita, bahkan meninggalkan mamah, tapi Mika nggak bakalan bisa karena mamah terlalu berharga buat Mika. Batin Mika saat melihat punggung ibunya yang meninggalkan kamarnya. ***