Komedian Kita orangnya humoris. Memang begitulah seharusnya syarat utama menjadi seorang penjual lelucon. Bahkan, penjual apa pun memang seharusnya humoris. Calon pembeli lebih suka disuguhi senyum dan tawa ketimbang muka kecut.
Biasanya komedian kita meracik lelucon-lelucon yang dijualnya itu tengah malam. Saat, suasana hening. Dengan begitu, komedian kita bisa berpikir lebih jernih dalam meramu leluconnya. Sehingga tidak ada lelucon yang kebablasan, terlalu matang, atau bahkan terlalu mentah.
Seiring permasalahan manusia yang semakin komplek, yang menimbulkan kesedihan yang semakin rutin, ditambah lagi musim pilkada yang semakin dekat, juga suasana politik yang kian menghangus, lelucon-lelucon komedian kita kian laris. Tak pelak, penghasilan komedian kita dari berjualan lelucon kian menukik. Sampai-sampai, komedian kita mulai kehabisan bahan untuk membuat ramuan lelucon yang baru. Sebab, tentu saja, para pembeli tak pernah sudi membeli lelucon yang sama. Hal itu membuat Komedian Kita kewalahan. Bahkan, meski harga leluconnya dinaikkan dua sampai tiga kali lipat, para pelanggan yang sudah kadung ketagihan lelucon komedian kita tak pernah mempermasalahkan.
Seperti malam itu, komedian kita kedatangan pelanggan seorang istri pejabat, yang memesan lelucon begitu banyak. Belum pernah ada orang memesan lelucon sebanyak itu. Sebab, suaminya yang seorang petinggi sebuah partai tersandung kasus yang lumayan menyedihkan, hingga tindak-tanduknya menjadi murung selama berhari-hari. Dibutuhkan banyak lelucon untuk orang seperti itu.
Maka, malam itu juga, komedian kita mulai mengumpulkan sisa-sisa bahan yang ada. Meramunya dengan lihai, sekena mungkin dengan tema yang diminta. Dan mengirimnya dengan gegas untuk pelanggan istimewa.
Esok harinya, komedian kita benar-benar kehabisan bahan lelucon. Sedangkan ia harus tetap berjualan, supaya pamornya sebagai penjual lelucon tidak mandek hanya gara-gara libur jualan sehari. Untuk meraih kesuksesan, dan kepercayaan dari pelanggan, hal semacam itu harus dipertimbangkan, begitu pikir Komedian Kita.
Maka, untuk tetap bisa berjualan, komedian kita mulai berani meraup bahan yang sebelumnya jarang ia pakai, yakni lelucon-lelucon beraroma RA-SA. Lelucon itu memang rawan, tapi begitu jadi, hasilnya kadang menakjubkan. Orang bilang, meledak. Bikin hati deg-degan. Seperti bermain taruhan. Lagi pula, menurut komedian kita, sesekali ambil lelucon beraroma RA-SA tak jadi masalah selama tidak melampaui batas. Maka, yang terjadi terjadilah.
***