Penjual Lelucon

Ketika lelucon itu disuguhkan, ledakan dari kepuasan pelanggan memang muncul. Namun, beberapa waktu kemudian, orang-orang yang tersinggung mulai menghujat dan melabrak komedian kita secara terang-terangan. Lapak jualan lelucon komedian kita kukut sudah diporakporandakan para pihak yang tersinggung itu.

Komedian kita minta maaf kesana-kemari, tapi apa boleh buat, komedian kita lupa, lelucon-lelucon itu muncul dari liang paling mengagumkan di kepala manusia: mulut. Dan lelucon apa pun, kalau sudah terlompat dari liang itu, tak bisa dimasukkan kembali. Itu lebih buruk dari muntahan. Bahkan muntahan bisa ditelan lagi. Tapi, kata-kata? Bagaimana cara menelannya?

Semenjak itu, komedian kita memutuskan untuk istirahat dulu dari membuat lelucon-lelucon. Komedian kita sadar, tak ada yang benar-benar lucu dari lelucon semacam itu. Kalau ia mau, ia bisa saja meraup bahan lelucon yang sebenarnya tak pernah habis di dunia ini. Sebagaimana ke- sedihan, yang juga tak pernah kukut dari dunia ini. Hanya saja, komedian kita merasa perlu belajar lagi, terutama dalam hal membuka dan menutup mulut pada tempatnya.

Arsip Cerpen di Indonesia