Baca juga: Dua Kekasih – Cerpen Dian Nangin (Analisa, 05 November 2017)
“Aduh, Pak Rahmad cuma buang-buang waktu, deh! Sekarang udah jaman modern. Semua jadwal itu, kan, bisa dikasih tahu lewat WA,” gerutu Anggun di sebelahku. Ia adalah satu di antara mereka yang terlihat grasak-grusuk karena tak sabar ingin segera merayakan ujian yang telah usai.
Tapi aku tak memedulikan kekesalannya. Perhatianku tertuju pada hal lain. Melalui ekor mata aku melirik seorang cowok yang berjarak tiga meter di sisi kiriku. Yudha, siswa kelas sebelah yang baru kukenal ketika masuk kelas dua. Itu pun tak sengaja karena kami memilih bidang ekstrakurikuler yang sama. Padahal sejak kelas satu aku sudah diam-diam memperhatikannya.
Pikiranku melayang. Entah kapan kami akan berjumpa lagi setelah nanti berpisah di gerbang sekolah. Entah cita-cita apa yang ingin diraihnya. Hubungan kami biasa-biasa meski ia pernah mengatakan bahwa aku salah satu teman terbaiknya. Kurasa ia berkata begitu karena tempo hari aku bersedia meminjamkannya koleksi novel milikku sebagai referensinya menulis fiksi. Teman terbaik. Aku tak ingin merusak predikat itu. Biarlah aku tetap memperhatikan dan mengaguminya diam-diam.
Aku gugup saat membalas senyum Yudha ketika memergokiku telah mencuri pandang padanya. Buru-buru aku menolehkan kepala.
Pengarahan ditutup setelah Pak Rahmad memberi tahu bahwa ia mengizinkan acara corat-coret seragam sekolah selama dilakukan dengan kondusif dan di dalam lingkungan sekolah, tanpa melakukan pawai keliling kota dengan sepeda motor dan menciptakan keributan. Spontan seluruh siswa mengiyakan. Begitu barisan dibubarkan, situasi langsung riuh karena beberapa siswa ternyata telah siap dengan pylox di tangan.
Seperti ketika SMP dulu, aku kembali menghindar. Kakiku berlari menjauh ketika beberapa teman yang usil membidikku dengan botol cat semprot di tangan.
Mataku tak berkedip ketika menangkap sekelebat wajah Yudha di kerumunan itu. Ingin rasanya aku berbaur, barangkali aku bisa mendapatkan torehan namanya di bajuku.
“Ayo, Sarah! Jangan diam saja di situ!” Anggun memanggilku. Dapat kurasakan kegembiraan menyelimutinya.
Melihatku berdiam di dekat gerbang, ia mengajak beberapa teman untuk menjemputku paksa. Aku melepaskan diri dari genggaman tangan Anggun dan berlari ke toilet. Aku sudah tak dapat menahan diri dan memilih untuk menjalankan rencana alternatif.
Dua tangan usil spontan menyemprotkan cat begitu aku keluar toilet setelah mengganti seragam putihku dengan sebuah kaus lengan panjang yang juga berwarna putih. Aku menjerit kaget, lantas berlari kencang menuju kerumunan sambil tertawa-tawa. Anggun menjejalkan sebuah pylox ke tanganku sambil mengedipkan mata.