Baju Seragam

Baca juga: Patah – Cerpen Dian Nangin (Waspada, 22 Oktober 2017)

Ribuan butir warna membaur di udara. Pekikan-pekikan senang terdengar di sana-sini. Guru-guru hanya tersenyum menonton dari tepi lapangan. Beberapa malah menyoraki kami dan bertepuk tangan. Sesuai pesan kepala sekolah, kami hanya melakukan aksi di dalam lingkungan sekolah lalu pulang tanpa menciptakan keributan di luar.

Kaus putihku tampak tak karuan. Entah warna apa saja yang sudah menimpanya. Seperti dugaku, ada sensasi yang berbeda ketika merasakan semprotan cat itu. Diam-diam aku bersyukur karena tak melewatkan acara yang telah menjadi tradisi tahunan ini, meski akhirnya aku merelakan pakaianku yang lain menjadi korban perayaan ini. Aku juga bersyukur karena masih bisa menyumbangkan baju seragam yang telah kuselamatkan.

Aku melangkah ringan menuju rumah. Hatiku bahagia karena masa SMA telah usai, sekaligus cemas menunggu pengumuman kelulusan dan rencana masa depanku. Namun hal lain yang membuat hatiku menghangat adalah ingatan akan wajah Yudha ketika ia membubuhkan nama dan sebaris pesan manis pembangkit semangat di pundak bajuku. Masih dapat kurasakan hembusan nafasnya ketika mengukir kata demi kata dengan serius.

Kutolehkan kepala, berusaha membaca sesuatu yang tertera di bahuku.

Good luck, Sarah. See you!

 

Medan, April 2018

Arsip Cerpen di Indonesia