Baca juga: Cangkir Malam Seribu Bulan – Cerpen Royyan Julian (Media Indonesia, 03 Juni 2018)
Bel istirahat berbunyi, membuat seluruh siswa yang ada di dalam kelas berhamburan keluar. “Rin, ayo kita ke kantin” Ajak Tesya, teman sebangku Airin. “Tidak, aku di sini saja” Tolaknya. Setelah semua siswa keluar, kini tinggallah Airin seorang diri di kelas. Ia mengeluarkan selembar foto yang tadi ditemukannya. Ia mengamati perempuan yang ada di foto itu, dengan sangat teliti. Dilihatnya juga sang bayi yang sepertinya baru satu minggu dilahirkan. “Karena pada hari ini, para guru akan mengadakan rapat akhir tahun maka diberitahukan kepada seluruh siswa-siswi untuk segera pulang setelah jam pelajaran kelima berakhir. Sekian dan Terima kasih” Suara pak Bambang terdengar menyeruak melewati speaker yang terpasang di sudut koridor sekolah, membuat seluruh siswa bersorak sorai karena pada hari ini pembelajaran dilaksanakan setengah hari.
Jam kelima baru saja berlalu, Airin kini sudah berada di parkiran dan mengambil sepeda miliknya. Ia mengayuh sepedanya dengan amat cepat, tidak peduli teriakan pengguna jalan lain yang merasa risih dengan ulah dirinya “Hati-hati dong dek, kalo nanti ketabrak bagaimana?” Ucap salah satu pengendara mobil sedan hitam yang baru saja disalip oleh Airin. Ia berhenti di sebuah Taman seperti biasa, dengan napas tersengal-sengal ia berteriak, “Kakek…, kakek di mana?” Airin mengedarkan pandangannya menyapu setiap sudut Taman itu, berharap melihat kedatangan si kakek. “Ada apa?” Sebuah tangan menyentuh pundak Airin membuatnya sedikit terpelonjak. “Ada apa? Kamu nyari kakek?” Tanya kakek tua itu sambil berjalan menuju sebuah kursi. “Ayo sini” Ujarnya sambil menepuk bangku taman yang kosong di sebelahnya. “Kek tadi pagi, aku menemukan selembar foto ini di tempat biasa aku menyimpan sepeda. Menurut kakek ini foto siapa dengan siapa?” Tanya Airin langsung pada persoalan yang ingin ia tanyakan. “Kakek tidak tahu ini siapa, tapi bisa saja ini foto kamu bersama bunda. Kalau begitu, minta sama ibu Ann foto kamu waktu masih bayi lalu samakan foto kamu dengan foto bayi ini.” Suruh kakek tua itu.
Airin pergi meninggalkan kakek setelah pamit kepadanya. “Ibu Ann, ibu Ann dimana?” Airin memanggil-manggil ibu Ann, ia mencarinya ke dapur, kamar, taman belakang namun tidak ada. “Ibu Ann..”. “Ada apa Airin manggil ibu, kok jam segini kamu sudah pulang?” Tanya ibu Ann yang baru saja keluar dari kamar mandi. “Tanyanya nanti saja ya bu, ibu Ann punya foto aku waktu kecil, maksudnya fotoku waktu masih bayi” Airin berharap bu Ann menjawab ‘Iya’. “Kalau tidak salah ibu menyimpan fotomu waktu pertama kali ibu menemukan kamu” Jawabnya. “Syukurlah, boleh aku melihatnya?” “Tentu, tunggu sebentar ibu ambil dulu.” Ibu Ann masuk ke kamarnya untuk mengambil foto yang dimaksud. “Ini” Ibu Ann memberikannya pada Airin. Betapa terkejutnya ia setelah mendapati foto dirinya yang diberika ibu Ann dengan foto bayi yang ditemukannya sama persis, bahkan baju yang dikenakan pun sama. “Bunda..” Airin menangis ketika pertama kali ia melihat potret bundanya yang sangat cantik. “Bu Ann, apakah ibu mau menemani Airin mencari bunda?” Bu Ann mengangguk ia pun ikut merasakan apa yang Airin rasakan sekarang.