Surat Cinta untuk Bunda

Baca juga: Lumpur Api (Begenggek) – Cerpen Kartika Catur Pelita (Media Indonesia, 29 April 2018)

Hari berganti, Airin sudah siap. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu bunda. Setelah kemarin sore sampai larut malam mencari keberadan bunda akhirnya Airin bisa mengetahui di mana sekarang bundanya berada. Dengan menaiki KRL dilanjutkan dengan naik angkot, Airin menemukan sebuah rumah besar dimana menurut informasi yang ia dapat bersama ibu Ann, di sanalah bunda tinggal. Airin menekan beberapa kali bel rumah tersebut, hingga muncullah seorang pembantu dibalik gerbang besi itu. “Ada perlu apa ya?” Tanya pembantu itu. “Apa benar ini rumah bunda, m..mak..maksudnya rumah bu Arum Khastari?” Airin balik bertanya pada pembantu tersebut. “Benar ini rumahnya bu Arum”. “Bu Arumnya ada? Kami ingin bertemu” Kini Ibu Ann yang berbicara. “Ada, kalau begitu silahkan masuk.”

Airin dan ibu Ann mengikuti langkah pembantu tersebut memasuki rumah bak istana itu, “Tunggu sebentar sepertinya bu Arum dan pak Darma sedang ada tamu. Silakan tunggu dulu di sini.” Pembantu tersebut mempersilahkan Airin dan ibu Ann untuk menunggu. “Kalau boleh tahu, pak Darma itu siapanya bu Arum?” Tanya ibu Ann. “Oh, pak Darma itu ayahnya bu arum bu. Kalau begitu saya ke dapur dulu.”

“Bunda…” Airin berlari dan langsung memeluk Arum tanpa memperdulikan tamu yang ada di sana. Arum terlihat kaget dengan kedatangan Airin. Darma langsung berdiri dari duduknya, dan mendorong Airin hingga tubuh mungilnya tersungkur ke lantai, “Siapa kamu? Panggil-panggil bunda ke anak saya. Cepat pergi” Ucap Darma tanpa menunjukkan sedikit pun rasa belas kasihan. “Bunda ini Airin bun, bayi yang bunda tinggal di panti lima belas tahun yang lalu” Airin mencoba meyakinkan Arum. Arum menggelengkan kepalanya sambil menangis, ‘Airin anakku’ ucapnya dalam hati. Arum beralih melihat Darma lantas berkata, “Dia anakku pah”. “Bukan, dia hanya anak panti yang mengaku sebagai anakmu. Cepat pergi dari sini” Darma semakin menaikkan rahangnya. Airin berlari keluar tanpa melihat ke kiri maupun kanan jalan, hingga sebuah minibus menabrak dirinya. Airin terlempar entah seberapa jauh, penglihatannya mulai kabur, helaan napasnya begitu berat, detak jantung dan denyut nadinya semakin melemah.

“Airin kenapa kamu tinggalin bunda, setelah sekian lama kita tidak bertemu?” Arum terus saja menangis sambil memeluk batu nisan bertuliskan Airin di sana. Ibu Ann menghampiri Arum dan memberikan sebuah surat padanya, “Saya temukan surat ini di bawah bantalnya Airin, saya kira ini untuk ibu”. Arum membuka surat itu dan membacanya dengan saksama.

Surat Cinta untuk Bunda

Bunda untuk kali pertama selama lima belas tahun ini akhirnya aku bisa melihat bunda, rasanya senang sekali. Aku berharap malam ini segera berganti pagi, aku ingin cepat memeluk bunda. Semoga surat ini bisa aku berikan langsung pada bunda. Aku berharap bunda juga ingin bertemu denganku. Ah rasanya tidak sabar. Selamat malam bunda. Dengan sayang dan cinta dari Airin.

Air mata Arum mulai berjatuhan membaca surat itu. “Maafin bunda Airin. Bunda selalu sayang sama Airin.”

Arsip Cerpen di Indonesia