Tiba-tiba perempuan itu terlihat seperti akan berbalik badan. Aku terperanjat dan mempersiapkan diri untuk lari kalau-kalau perempuan itu benar-benar hantu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Rasa penasaranku lebih membawaku untuk mencari tahu ada apa sebenarnya dengan perempuan itu. Lebih-lebih, mana mungkin ada hantu yang menampakkan diri di siang hari. Itu tidak mungkin.
Baca juga: Di Boyang Mekkeqde Ada Maakkeq Boyang – Cerpen Mawan Belgia (Banjarmasin Post, 03 Juni 2018)
Wajahnya lumayan cantik. Kuharap dia bukan sundel bolong yang sedang berpura-pura dan menyamar dalam sosok wanita rupawan seperti dalam film-film horor tahun 2000-an. Aku baru melihatnya sekarang selama kuliah enam semester di sini. Ah, barangkali dia mahasiswi pindahan universitas lain.
Tanpa kejadian apa-apa yang begitu berarti, dia kemudian menghampiriku. Langsung menyeret kursi dan duduk di sampingku. Dia bercerita semaunya. Yang paling aku kejutkan adalah ceritanya yang hampir mirip denganku.
Dia merasakan keanehan sejak ada sesuatu yang tiga minggu lalu dia lakukan. Jangan terkejut dan tercengang apa lagi merasa aneh. Perempuan itu menulis makalah dengan cara yang tidak biasa, dengan cara yang biasa digunakan oleh para dukun atau para normal untuk menuliskan jimat. Dia mempuat makalah dengan cara ditulis tangan dan setiap selesai menulis satu kata dia akan membaca semacam mantra, entah aku sudah lupa lafadz-lafadznya tapi begitulah yang dikatakan perempuan itu.
Dia bilang bahwa itu adalah kiat-kiat sukses yang didapatkannya dari seorang profesor filsalat. Tapi karena ada sesuatu yang mengharuskannya untuk pindah kuliah, dengan terpaksa dia memasuki kelas siang itu. Ini hari pertama dia kuliah di sini.
Awalnya, satu minggu setelah dia selesai membuat makalah tadi, dia merasa seperti menjadi tak terlihat. Seperti dalam cerita film Invisible Man, dia merasa orang-orang tidak bisa melihatnya. Bahkan pernah dia mencoba untuk membuktikan bahwa dia memang benar-benar tak terlihat dengan cara mencopet di sebuah bus yang penuh penumpang. Benar saja, dia mengantongi empat dompet dalam sekali aksi.
Baca juga: Cerita Daun, Pohon dan Petrichor – Cerpen Faris Al Faisal (Banjarmasin Post, 15 April 2018)
Namun di minggu yang ke dua, mulai timbul kejanggalan di balik kemampuan menghilangnya. Dia kemudian tidak bisa memperlihatkan ulang dirinya. Ah, maksudku dia terus-terusan tidak bisa dilihat oleh orang. Awalnya dia mengira orang-orang di kotanya lah yang tidak beres dan kemudian membuat dia pindah kuliah. Akan tetapi sampai di kota ini, yang terjadi di kotanya tidak jauh beda dengan yang dirasakannya sakarang di kotaku. Dia benar-benar sudah menghilang dari dunia, tidak terlihat.