Aku dan Seorang Perempuan Bergantian Menulis Sesuatu

“Kenapa kau bisa tahu kalau aku bisa melihatmu?” tanyaku padanya.

“Orang bernasib sama pasti akan sehati, bung,” ucapnya.

***

Aku masih tidak mengerti ucapan dari perempuan itu, mungkin begitu juga dirimu. Tapi setelah dua hari kemudian, aku baru sadar bahwa pada akhirnya seseorang yang berdiri di depan kelas dan menuliskan sesuatu di papan sampai kuliah selesai siang ini adalah aku! Bukan peremuan itu lagi.

Sampai selesai, sampai dosen menutup ceramah dengan salam, tak sedikit pun aku disuruhnya untuk duduk. Bukan hanya itu. Seisi kelas juga seolah tidak merasakan apa pun kalau saja aku ini berada di depan kelas.

Baca juga: Kakek Bertubuh Cerpen – Cerpen Mahfuzh Amin (Banjarmasin Post, 11 Februari 2018)

Semua mulai beranjak pulang dari kursi masing-masing. Dosen sudah keluar kelas, sementara beberapa mahasiswa masih ada yang belum pergi. Beberapa seperti membentuk grup kecil dan memperbincangkan sesuatu. Tak ada yang memperhatikanku. Entah, sampai seisi kelas hampir kosong dan aku masih belum bergeming di depan kelas, berdiri di hadapan papan dan tetap menuliskan sesuatu.

***

Perempuan itu termenung dalam lamunannya. Ia tersadar saat bukunya terjatuh. Setelah mengambilnya, dia kembali termenung dan tetap menatapku dengan penuh prasangka. Seolah dianggapnya aku ini hantu atau entah apa, dia berpikir sedang masuk kelas para hantu.

Ah, tunggu dulu. Atau jangan-jangan aku dan perempuan itu… ***

 

Ozik Ole-olang alias Muhammad Fakhruddin Ar-Razi, kelahiran Lamongan, 21 Desember 1998. Karya mahasiswa Jurusan Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini berupa antologi puisi berjudul Minggu dan Pagi yang Sendiri (2018). Domisili di Malang.

Arsip Cerpen di Indonesia