Bunting

Kemarin aku dan perkumpulan tukang ojek kampung bersekutu menagih janji Kang Kendil sebagai penyambung lidah mengenai jalan umum yang rusak penghubung antarkampung. Jalan yang biasa dilewati pengojek. Namun sampai saat ini aspirasi kami ditelan mentah-mentah. Aku masih ingat betul gayanya berorasi di kampung-kampung dan kabupaten kampanye waktu itu. Jika ada acara warga ia sangat dermawan tiba-tiba menyumbang anggaran, lalu menebar janji untuk memperbaiki jalan antar-kampung yang rusak parah, memberantas perdagangan miras oplosan dan menghentikan transaksi penjualan senjata tajam.

Akhir-akhir ini jasa ojek pangkalan di kampung kami makin sepi penumpang karena kondisi jalanan yang akan menuju kampung seberang rusak parah. Pun rawan begal yang sekarang makin marak. Kukumpulkan teman-teman di pangkalan ojek membahas masalah ini, tapi pikiranku masih saja berputar-putar pada permintaan ngidam istriku. Menurutku cukuplah masyarakat dibodohi dengan janji manis yang tiada bukti.

Aku tak mau istriku bunting lagi hanya gara-gara tak menuruti nafsu ngidamnya. Usiaku sudah tua, aku tak mau ajal lebih dulu menjemput sebelum anak-anakku tumbuh dewasa.

“Katanya aspirasi warga kampung didengar? Mana? Ojekan makin sepi jalan umum dalam kondisi rusak parah tak juga diperbaiki,” kata JP si tukang ojek senior.

“Tahu begitu aku nyesel pilih dia,” sahut HB sang ojek junior.

“Aku juga, malu sama istriku pendapatan setiap hari berkurang bukannya nambah. Ini semua gara-gara jalanan rusak, begal juga tak diberantas!” lanjut JP lagi.

Kutatap gemintang pada langit hitam di sana sembari mendengarkan kedua kawan ojekku ngedumel, rembulan agaknya tak mau menyembulkan sinar terangnya. Rencana awalku yang begitu menggebu-gebu mengepalai para tukang ojek untuk menagih janji manis Kang Kendil sedikit terganggu, karena teringat permintaan ngidam istriku minta satai kambing. Tak ada uang sepeser pun.

“Jo…, gimana? Jadi ndak kita besok berdemo di depan rumah si Kendil itu?” ucap JP.

HB bilang aku terdiam seperti bekicot, sekali-sekali menggaruk kepala yang tak gatal. Hmm, apa mungkin koloni uban sudah bermunculan di rambutku. Barangkali tukang ojek sekarang menjadi profesi yang mengkhawatirkan, pasalnya kemarin CP mati digorok begal akibat lewat jalan kampung sebelah yang penuh lubang. Mungkln karena istrinya sedang bunting dan merengek minta jalan-jalan ke Bali. Sepertinya aku tak boleh menolak tawaran ngojek di sebelah walaupun harus mati.

***

Arsip Cerpen di Indonesia