Bunting

Sebenarnya kami bukan begal sembarangan, kami akan membegal jika kepepet dengan uang. Maklum istri kami sedang bunting muda nafsu ngidamnya makin membahana, entah musiman apa tidak rata-rata warga kampung sedang banyak-banyaknya perempuan bunting. Niat awal kami ingin membegal mobil para pejabat tinggi yang bermukim di kampung kami, terutama yang menelen mentah-mentah aspirasi warga seolah-olah tuli telingannya. Mereka telah menodai wanginya janji, pun mereka tak menghentikan aksi anarkistis kami. Kami rasa para pejabat tinggi mendukung aksi kami, terbukti malam ini kami dapat menenggak miras yang dijual bebas sebagai cara kami membegal.

Pohon trembesi besar di pinggir jalan tempat biasa kami bersembunyi, parang dan buding ada di saku persembunyian kalau-kalau calon korban kuat melawan. Kami menunggu dengan masygul, dua jam menunggu sampai dua botol miras tandas. Tapi akhirnya ada si calon korban.

Cahaya remang dari sepeda motor miliknya menyorot dari kejauhan, di belakang telah diboncengnya kawan kami. Saat ban motornya mantul-mantul melewati jalan yang rusak parah, dimulailah aksi kami. Sayang nasib kami belum beruntung, sepeda motor jadul yang ia gunakan, tetapi tak apalah yang penting menghasilkan uang untuk membeli segala permintaan ngidam istri-istri kami yang sedang bunting.

Terjadilah peraduan sengit saling mempertahankan keinginan, maka jadilah perut si korban robek terkena hantaman parang. Cepat-cepat kami mengambil uang dan sepeda motornya kemudian tunggang langgang sejauh-jauhnya.

***

Aku terperanjat mendengar istriku meraung-raung dibopong mertua perempuan menuju rumahnya ke belakang. Orang-orang berkoloni di depan rumah kami, entahlah apa yang mereka tonton kala istriku meraung. Lama aku di balik kerumunan orang-orang. Aku baru tersadar bahwa aku telah mati dirampok begal, cukuplah dua orang mati karena begal. Itu sama artinya matinya hati nurani pejabat tinggi di negeri kami.

 

Lailatul Badriyah, mahasiswa Perpustakaan dan Arsip Universitas Brawijaya ini dimuat a.l. di Haluan Padang dan Kompas. Domisili di Penanggungan, Malang.

Arsip Cerpen di Indonesia