“Seandainya tak hanya setahun sekali. Paceklik kan berbulan-bulan,” keluh Lik Baidi sambil mengambil sepotong combro. Warung Yu Jenah, di bibir laut, menjadi tempat nongkrong nelayan usai melaut. Sekadar ngopi, menikmati gorengan dan ngobrol tentang hal-hal sehari-hari. Persoalan kehidupan yang tak lepas dari masalah ekonomi, urusan perut, hingga masalah politik urusan rebutan kedudukan dan jabatan.
“Jangan mengeluh, bersyukurlah. Dapat beras lima kilo. Lumayan. Bisa untuk lima hari kan?”
“Anak Sampeyan cuma satu, Kang, Man. Anakku banyak. Belum keponakan yang numpang.”
“Salahnya sendiri sih Kang. Punya anak banyak….”
“Bikinya enak lhah Kang. Numan…”
Mereka tertawa senang. Yu Jenah memilih meracik segelas kopi saat tetamu warung datang. Kali ini anak-anak muda yang mampir warung setelah asik berfoto-foto di bibir pantai.
***
Beras raskin kali ini mutunya bagus. Biasanya beras patah, kuning, banyak kerikil! Tapi siang itu seorang Sholikul menemui Warman dan mengadu…
“Dapat berapa kilo raskin, Kang Man?”
“Yo, 5 kilo. Sama kan?”
“Ya, Lik. Tapi Si Seno nimbang beras katanya kurang 5 ons. Pardi kurang 3 ons. Bangor kurang 4 ons. Sampeyan?”
“Aku tak nimbang, Kang. Ibune langsung ngambil untuk ngliwet.”
“Ini tak adil Kang, kecurangan. Korupsi. Kok tega-teganya beras raskin di korupsi. Kita ke kelurahan Kang. Mustam-si wartawan yang kebetulan satu RT sama kita akan menuliskan beritanya di koran!”
Berita tentang raskin yang berkurang bobotnya termuat di koran lokal. Si wartawan memberi kesaksian bahwa saat diadakan penimbangan ulang disaksikan warga dan aparat kelurahan memang bobot raskin berkurang antara 1- 5 ons.
Keesokan harinya pejabat datang dan memberi klarifikasi . “Bobot beras berkurang karena beras mengalami penyusutan. Beras masih dalam keadaan belum kering benar ketika dimasukkan ke dalam karung. Sesuatu yang wajar.”
Sebagian warga mengangguk. Sebagian warga tak mudah percaya. “Kami tak mudah percaya, dikelabui begitu saja. “