Menyimpan Buku

Jika aku menjadi kau, tentu saja aku tak mungkin membeli buku-buku. Karena dengan uang yang kau punya, tentu saja kau akan kesulitan membeli buku. Tapi usahamu yang kuat telah mengubah cara pandangku terhadap buku. Bahwa buku lebih penting daripada apa pun. Kau rela berjalan kaki, rela memakai mengikuti seminar-seminar yang memberikan bolpoin gratis bagi pesertanya, tapi untuk iuran soal ujian kau masih berpikir dua kali.

“Mengapa kau lebih memilih buku daripada hidupmu sendiri.”

“Sebenarnya ada yang lebih penting dari buku,” jawabmu.

“Apa?”

“Kehidupan.”

“Bagaimana mungkin?” tanyaku keheranan.

“Carilah sendiri jawabannya,” jawabmu tanpa beban.

“Tapi mengapa kau membeli buku-buku itu?” tanyaku lagi.

Tak ada jawaban selanjutnya. Kau berdiam diri dan mematung. Sepertinya kau sedang berpikir keras. Entah memikirkan apa. Aku tak tahu.

***

Di perpustakaan tengah kota ini, kau tak akan pernah merasa nyaman. Kujamin. Setengah jam saja di sana, kau akan merasa bosan. Bukan bosan, lebih tepatnya kurang nyaman. Itu karena kau akan mendengarkan ocehan penjaganya yang begitu keras, terlalu berisik jika kau gunakan untuk membaca buku. Terlalu buruk pula bagi konsentrasimu. Begitulah katamu.

Baca juga: Seorang Tua yang Mengakhiri Cerita – Cerpen Eko Setyawan (Radar Bromo, 01 April 2018)

Memang, di perpustakaan ini, penjaganya tak ubahnya seperti pengeras suara. Mengoceh tak beraturan dan sibuk bergunjing. Aku beberapa kali berkunjung. Mencari novel-novel yang teramat sulit kutemukan di toko buku dan di perpustakaan kampus. Di sini cukup lengkap untuk ukuran perpustakaan kota. Tapi di sini prosedur peminjaman buku sangat sulit. Para penjaga itu akan mempersulit peminjam buku. Karena mereka semua curiga pada orang-orang. Mereka takut kehilangan buku-buku yang sebenarnya tak pernah mereka urus.

Terlebih lagi jika dibaca di tempat, kau tak akan mampu. Mereka cerewet.

“Apa yang menyebabkan perpustakaan itu roboh?” tanyaku padamu setelah kau bercerita beberapa hari yang lalu.

Kau mengernyitkan dahi. Mukamu terlipat. Kurasa kau sedang bersedih atau robohnya perpustakaan itu. Memang, kau membenci para pegawai di perpustakaan ini. Tapi tak lantas menyebabkanmu benci pada buku-buku.

“Mereka yang menyebabkannya,” katamu.

“Bagaimana mungkin?”

Arsip Cerpen di Indonesia