“Karena ulah mereka. Mereka tidak menyanyai buku-buku. Mereka membencinya. Mereka hanya bekerja untuk mendapat uang, tapi tak pernah berusaha mengembangkan perpustakaan,” katamu menggebu.
Aku benar-benar heran padamu. Mengapa kau begitu peduli dengan perpustakaan, padahal para pekerja yang bertugas itu sama sekali acuh. Seperti yang kau ceritakan terus menerus.
Baca juga: Tato Titi – Cerpen Eko Setyawan (Koran Tempo, 30 September 2017-01 Oktober 2017)
“Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?” tanyaku penuh selidik.
“Mereka membiarkan rayap-rayap menikmati lembar tiap lembar buku. Tikus-tikus membobol rak kayu. Juga ketidakpedulian mereka pada buku-buku.”
“Sudah. Cukup.”
“Bagaimana mungkin aku bisa terima dengan apa yang mereka lakukan pada perpustakaan. Apa mereka pikir, buku itu tidak penting. Sungguh, mereka biadab.”
***
Di dalam perut mobil bekas itu, kau menyimpan koleksi buku-buku milikmu.
Kau membuat perpustakaan sendiri di dalam mobil bekas peninggalan ayahmu. Kau mengubahnya menjadi tepat yang aman dan nyaman bagi buku-buku juga pembacanya. Di sana, orang-orang bisa membaca buku sesuka hati mereka. Mereka juga bisa meminjam buku tanpa syarat apapun. Kau sungguh sedang berbaik hati. Sebagai bayaran atas rasa dendammu pada pustakawan yang pernah kau temui sebelumnya.
Di dalam perut mobil bekas itu, ada ratusan buku yang kau susun rapi. Diurutkan berdasarkan klasifikasinya.
Lalu kau urutkan abjadnya. Pengkatalogan yang kau lakukan lebih baik dari yang ada di perpustakaan kota yang pernah kau ceritakan. Dan yang kau unggulkan adalah koleksi nomor 800-an atau biasa di sana banyak ditemukan buku-buku fiksi.
Baca juga: Halaman Berstabilo Pink – Cerpen Iis Soekandar (Rakyat Sumbar, 07-08 Juli 2018)
Memang, di kota ini, buku cerita rekaan lebih laku daripada buku cara memasak yang baik dan benar, buku resep, buku cara berpenampilan yang membuat lawan jenis terpikat, atau pun buku tentang ilmu alam yang begitu saklek dan mengikat.
Tapi nahas, nasib baik memang tak pernah berpihak padamu. Entah kenapa, selalu nasib buruk yang menimpamu.
Mobil perpustakaan itu meledak. Penyebabnya tak pernah kau ketahui. Buku-buku berserakan. Aku tau kau bersedih atas hal itu. Kau memungut buku-buku itu satu per satu. Memang kau sedang tidak bernasib lebih baik dari perpustakaan kota itu.
“Kau tak merawatnya?”