“Saya Arung Bakke, Toangke! Saya telah bersumpah tidak akan pernah tunduk kepada penguasa Bontoala sepanjang hak-hak atas negeri saya dan negeri-negeri yang kutaklukkan dengan tanganku sendiri dirampas!”
Daeng Memang, putra Arung Bakke pun sudah siap siaga di sisi pettanya dengan senjata terhunus. Terbayang wajah istri mudanya dan anak laki-lakinya yang baru saja bisa berjalan, namun segera buyar dalam tekanan medan laga yang telah memuncak. Terdengar pintu gerbang kayu yang berat itu berderak tertutup dan pertarungan tak seimbang itu pun dimulai.
Arung Bakke memberi perlawa nan dengan sekuat tenaga, ketangkasan bela dirinya masih sempat merepotkan lawan. Namun, karena ketahanan badani yang sudah mulai berkurang dan kelengkapan senjata penyergapnya, ia dengan segera dapat dibunuh. Daeng Memang juga bertarung mati-matian, namun juga akhirnya terbunuh. Dua hari kemudian kepala Arung Bakke yang telah dipisahkan dari badannya ditunjukkan kepada Presiden Cops di Fort Rotterdam sebagai bukti bahwa ‘pemberontakan’ Arung Bakke sudah ditumpas. Presiden memerintahkan kepala itu dikembalikan agar bisa dikubur bersama jasadnya.
***
19 Februari 1760
Udara sejuk dan matahari bersinar lembut di pagi musim hujan yang cerah. Sepelemparan jauhnya dari bibir pantai, sebuah perahu layar bercadik, didayung lamat- lamat bergerak mendekat, layarnya sudah diturunkan dan sekarang sedang digulung oleh awak lainnya. Daeng Memang duduk pada batang kayu yang melintang badan perahu, mengamati pulau di hadapannya.
Baca juga: Yang Lain Diceritakan Kakekku tentang Tomanurung – Cerpen Ilyas Ibrahim Husain (Fajar, 03 Juni 2018)
Galla Bellang Ullu berdiri di bawah pohon waru sambil memperhatikan perahu semakin mendekat. Ia beranjak berjalan ke bibir pantai dan menghamburkan gabah dengan tiga kali ayun ke arah tamunya yang baru saja menjejak pantai. Di luar dugaannya yang datang masih sangat muda. Setelah bertukar sapa, berdua ber jalan beriringan menuju benteng.
Di bawah pohon beringin di sudut barat, dua orang tukang perahu sedang bekerja. Bunyi beriramayang dihasilkan dari pekerjaan mereka menyemangati suasana pagi itu. Gerbang yang tak lagi berpintu terbuka lebar menyambut kedatangan Daeng Memang. Sebuah meriam terduduk sunyi pada kuda-kuda tak beroda. Letusannya tak pernah lagi terdengar. Ini zaman damai, ikan melimpah, padi dipanen tak habis-habis dan perdagangan berkembang pesat. Kesejahteraan terlihat merata.