Addatuatta Matinroe ri Salemo

“Siapa gerangan nama dari anak pettanya ini?” Bahasa Bugis yang dilontarkan tuan rumahnya ini terasa kaku di telinga Daeng Memang, meskipun kelihatan jelas usaha untuk memperhalus tuturnya.

“Abdul Halim, Puaq. Tetapi Petta Toa memberiku nama panggilan Daeng Memang.”

“ Aah, Petta Cabbeng. Apa halnya? Sehat juakah dirinya? Jika kuhitung-hitung sudah hampir dua puluh tahun ia tidak pernah lagi datang berziarah.”

Tak lama kemudian piring-piring berisi makanan mulai diangsur dari bilik belakang dan diletakkan di ruang depan. Anak gadis Galla mengatur tata letak makanan di atas lantai papan. Kulitnya putih kekuningan. Gerakannya tangkas dan cekatan. Daeng Memang tak mampu menahan diri dan mencuri pandang. Namun, dirinyalah yang kemudian malu dan mengalihkan pandangan, karena gadis itu balas menatap dengan sinar mata yang hangat tepat di bola matanya. Bibirnya melengkung tipis, sangat samar menggurat sebuah senyum.

***

20 September 1762

Perahu-perahu dagang sudah sejak sebulan lalu mulai kembali dari pelayaran mereka dari barat. Setelah membongkar muatan di Makassar, perahu-perahu pulang ke pangakalan mereka masing-masing di pulau-pulau Sangkarang. Mendengar kabar bahwa perahu yang mengangkut batu nisan berukir pesanannya dari Jawa sudah tiba, Daeng Memang menyerahkan anaknya yang sedang ditimang-timangnya kepada istrinya kemudian menuruni tangga rumah di tengah benteng itu. Daeng Memang pamit mau ke selatan untuk melihat sendiri dan mengatur pembongkaran dan pengangkatan ke dekat makam.

***

Baca juga: Belut yang Ingin Jadi Raja – Cerpen Ardani H.K (Fajar, 01 Juli 2018)

22 September 1762

Setelah batu nisan yang diperuntukkan untuk dua kuburan itu sudah terpasang, Daeng Memang meminta Guru untuk membacakan doa bagi arwah kedua buyutnya. Pada permukaan batu pualam berukir itu tertulis dengan aksara lontara [a.da.tu.a.ta – ma.ti.nro.e – ri – sa.le.mo] / Addatuatta Matinroe ri Salerno (Junjungan Kita yang Terbaring di Salemo). Pada baris kedua secara berurutan: [a.ru-ba.ke] /Arung Bakke kemudian [da.e-me.ma] /Daeng Memang. Pada baris ketiga tertulis dengan angka dan huruf Arab: [22 Muharram 1092]. Daeng Memang merasa lega telah menunaikan dengan tuntas tugas yang diberikan oleh Petta Toa Cabbeng kepadanya. Dari kakeknya itulah ia mendengar cerita tragis kedatangan dua buyut mereka ke Salemo hanya untuk menemui kematian. Namun bagi dirinya ia sudah tahu, sejak hari pertama tiba di Salemo, bahwa ia di sini untuk melanjutkan hidup. (*)

Arsip Cerpen di Indonesia