+ Tak bisakah kita menatanya lagi seperti mula?
– Tak.
+ Teganya dirimu. Kau jahat! Seandainya aku ikut ke mana engkau pergi?
– Kau tak akan pernah mampu.
+ Aku bisa belajar. Aku bisa mencobanya.
– Hidup bukan percobaan.
+ Tak adakah sedikit hatimu padaku? Tak ingatkah kau segalanya? Segala yang pernah singgah darimu?
– Jangan cengeng. Hidup tak akan terus jika kau terlalu sentimentil.
+ Kau jahat!
(Ia menangis dalam raungan. Suaranya pecah buncah. Ia menjerit sekeras-kerasnya. Seperti kehilangan sesuatu yang amat berharga).
– Kau akan paham nanti. Lagipula kita sudah berbeda arah. Kau tak pernah menganggapku sebagi nakhoda.
+ Dalam hal apa? Ceritakanlah…
– Banyak. Tak bisakah kau mengintrospeksi dirimu sendiri?
+ Mengapa cinta yang dipermasalahkan. Apakah cinta yang memunyai dosa? Bukankah cinta itu suci? Cinta adalah cinta itu sendiri. Cinta itu peristiwa dalam roh*, kau tak akan mengetahui keajaiban-keajaibannya. Bukankah tadi kau katakan sendiri cinta itu misteri? Yang terkadang begitu sulit untuk ditelusuri.
-Ya, begitulah. Tapi aku tak sanggup lagi melanjutkan hubungan kita. Bagiku, kau teramat indah. Tidak bakal cocok disandingkan denganku. Mungkin masih ada lelaki lain yang cocok buatmu. Maaf…
Baca juga: Kisah-kisah yang Pendek – Cerpen Alex R Nainggolan (Suara Merdeka, 18 April 2010)
+ Tapi, bolehkah aku meminta permintaan terakhir. Satu saja. Aku ingin mengecup bibirmu, memeluk hangat tubuhmu. Untuk terakhir kalinya. Sekadar mengenang, mungkin bagimu telah usang.
(Kedua bola mata perempuan ituberair. Tak lama meneteslah air mata. Begitu banyak. Begitu deras. Ia sesegukan menahan sedih.)
– Justru itu jika itu yang kau perbuat aku tak akan bisa meninggalkanmu.
(Dan mereka berciuman. Mendekap erat. Dua tubuh jadi satu. Ada tangis yang tak jadi tergelincir dari pelupuk mata. Ada sedih yang enggan keluar. Pelbagai penyesalan pun menggayut. Seperti hadir begitu saja).
***