(Di kesempatan yang lain, mereka bertemu di taman kota. Ketika bugenvil sedang mekar-mekarnya. Ketika sore menerawang. Saat langit begitu bersih dan biru. Sayang, taman di kota ini terlalu riuh. Bersisian dengan kemacetan mobil di sisi jalan. Tapi ini sudah cukup indah, agaknya.)
– Aku mencintaimu. Sungguh. Mungkin di dadaku hanya ada kamu.
+ Gombal. Mulut lelaki penuh bisa. Ucapan yang tak pernah bisa dipercaya.
– Kau tak percaya. Apa mesti kuambilkan sebilah pisau agar kau robek sendiri dadaku. Agar kau dengarkan detak jantungku, betapa dirimu telah menjadi keringat dan darah. Telah menjadi satu. Apa kau mencintaiku? Kau perempuan terindah bagiku. Tak ada hal penting selain dirimu. Bersamamu, segala masalah berat menjadi sepele. Segala sukar jadi mudah.
+ Ah. Kau ’kan tidak suka matematika.
– Ya, matematika tetap saja sulit. Cinta juga bukan matematika. Apakah kau benar-benar mencintaiku?
+ Gimana ya? We’ll see deh. Kau tak akan paham ujung waktu bukan? Apakah kau tetap mencintaiku ketika bungkuk dan tua renta?
***
Baca juga: Penjual Lelucon – Cerpen Mashdar Zainal (Lampung Post, 08 Juli 2018)
– Jika kau telah tua, kau tetap yang terindah. Keindahan yang tak pernah selesai aku katakan, bahkan ketika menuliskan dirimu aku tak akan pernah sudah. Dan kita akan membangun rumah, lantas punya banyak anak. Seperti kelinci.
+ Sumpah mati? Jangan lebay deh.
– Swear… sumpah mati. Apa mesti kubuktikan seperti Romeo dan Juliet, begitu sulitkah bagimu untuk memercayainya.
+ Ya, aku mencintaimu, sebagaimana kau mencintaiku.
– Ya, biarkanlah segalanya menjadi takdir. Cinta kita yang suci.
+ Aku rasa cukup itu saja. Oke, aku mencintaimu.
(Matanya berpijar seperti bintang kejora. Ah, dia memang perempuan terindah. Setidaknya bagiku). n