Purnama Terindah

Ini purnama ke sekian. Wina malas membuka jendela seperti biasanya. Biarlah purnama kali ini berlalu, karena tak ada yang Wina tunggu lagi. Berharap berduaan bersama Rudi menikmati purnama di taman? Ah, itu hanya mimpi!

Suara ketukan pintu. Wina bergegas membuka pintu dan ia pun terpana.

“Rudi?” serunya tak percaya.

“Apa aku mengganggumu, Wina?”

Wina cepat menggeleng. “Tidak, Rud. Aku… aku senang kamu main ke sini.”

“Kamu ada acara? Aku ingin mengajakmu nonton.”

“Nonton? Denganku?” sahut Wina masih tak percaya.

Rudi mengangguk dan tersenyum. Wajah Wina berseri-seri. Dia segera ke kamar untuk mengganti pakaian. Lima menit kemudian dia muncul dengan wajah ceria.

“Maaf, kamu lama menunggu,” katanya.

Rudi menggeleng dan tersenyum. “Tidak selama kutunggu kesempatan ini.”

Di luar pagar halaman, sebuah Jazz merah telah menanti.

“Mobilmu? Mengapa tak pernah kamu bawa ke sekolah?”

“Bukan, kok,” Rudi menggeleng. “Ini mobil ayahku. Aku nggak punya apa-apa,” kata Rudi merendah.

Wina tersenyum dan memandang kagum pada Rudi.

Mobil segera meluncur ke bioskop di dekat alun-alun. Di dalam ruang bioskop yang ber-AC, Wina tampak gelisah, ia lupa membawa jaket sehingga tubuhnya kedinginan.

“Kamu pakai jaketku,” kata Rudi melepaskan jaket, lalu memakaikannya ke tubuh Wina.

“Kamu?” tanya Wina menatap lembut. Dalam remang pendar cahaya proyektor, Wina melihat Rudi menatapnya lembut pula.

“Pakai saja jaketku ini. Aku nggak ingin kamu sakit,” sahut Rudi.

Dua jam kemudian mereka telah berada kembali di dalam mobil. Rudi mengajak Wina ke kafe.

“Aku ingin sekali ke kafe. Tapi ini sudah jam 10 malam, aku harus pulang. Maaf ya, Rud?” kata Wina.

“Aku mengerti, Win.”

Mobil keluar dari area parkir. Tapi belum seberapa jauh, Rudi menepikan dan menghentikan mobil. Rudi terdiam sejenak seperti memendam sesuatu. Oh, apakah Rudi kecewa karena Wina menolak diajak ke kafe?

“Wina, aku mau bicara…” kata Rudi menatap Wina.

Arsip Cerpen di Indonesia