Kalau mau jujur, aku rindu dengan saat itu. Ketika kau dan aku menjadi penggemar teh paling gila, adalah masa-masa kedekatan kembali menguat setelah gelombang pertama yang membuat kita sibuk menyamankan pelayaran bersama. Hingga lahirlah anak kedua kita.
“Ibu ingin aku buatkan teh?” ini dia anak keduaku. Perawakannya yang tegap berisi, tampan dan simpatik, sering membuat rinduku kepadamu melonjak-lonjak tak terkendali. Meski aku selalu berusaha mengingkari ini.
Aku mengangguk pelan. Menatapnya riang. Sebentar lagi dia akan menjadi seorang bapak. Akhir-akhir ini dia kerap mendekatiku hanya demi mengetahui seluk beluk perihal wanita ketika hamil.
“Ibu ingin teh apa? Teh putih, teh hijau, teh oolong, teh hitam, teh melati, atau teh racikan Azam sendiri?”
Baca juga: Kabut – Cerpen Adi Zamzam (Suara Merdeka, 21 April 2013)
Kegilaannya akan teh melebihi kita berdua. Apa mungkin karena di masa kecil dialah yang sering menemani kita saat minum teh bersama? Ia bahkan berani menggantungkan hidup dari itu. Membuka kedai di mana teh racikannya sendiri yang menjadi menu andalan. Dia seperti kenangan yang hidup. Kepiawaiannya memanfaatkan teh adalah hal yang amat berguna baginya, meski hal itulah yang justru membuatku kecut. Lihatlah saat dengan cerewetnya dia menjelaskan beragam manfaat teh yang ada dalam menu jualannya kepada pelanggan.
“Teh putih itu tak mengalami proses fermentasi. Pengeringan dan penguapannya juga sangat singkat. Diracik hanya dari daun pilihan yang dipetik sebelum benar-benar mekar. Proses singkat itulah yang membuat kadar katekinnya tinggi, yang berguna sebagai penangkal radikal bebas serta antioksidan.”
“Nah, kalau teh hijau ini tak mengalami fermentasi, tapi pengeringan dan penguapannya agak lama. Kadar katekinnya sedikit lebih tinggi dari teh hitam. Ia dikenal sebagai penurun darah tinggi, kadar kolesterol jahat, pencegah kanker dan stroke serta bagus untuk menghaluskan kulit. Kau bisa menjadikan ini sebagai oleh-oleh istimewa untuk istrimu di rumah.”
“Oh, teh oolong ya? Kau punya penyakit gula? Teh dengan semi fermentasi ini dinamai sesuai nama penemunya. Seperti teh racikanku Azamtea ini, hahaha… Tapi, ada juga yang menyebutnya sebagai teh naga hitam karena teh ini mirip naga hitam kecil yang terbangun saat diseduh. Teh ini amat bagus untuk membantu kinerja pencernaan dan meredakan sakit kepala.”