“Teh yang aromanya paling kuat ya teh hitam ini. Inilah teh yang paling banyak dikon sumsi orang karena dipercaya dapat mencegah kantuk dan meningkatkan konsentrasi. Sementara itu di Indonesia, yang paling tersohor ya teh melati atau teh campuran dari bunga melati dan bunga gambir. Teh ini juga bagus sebagai penurun kolesterol dan penyegar badan. Itu ada. Silakan dicoba semua. Pokoknya di gerai kecil ini ada semua, tinggal cari Anda cocok dengan yang mana.”
Heran aku dengan keahliannya itu. Andai saja kau masih di sini dan tahu, kau pasti akan sama herannya denganku. Padahal, dialah yang paling antipati denganmu. Apakah dia belajar diam-diam dengan menggunakan kebenciannya itu? Aku tidak pernah mengajarinya kebencian. Aku hanya selalu menjadi pagi yang membangunkan dan menyiapkannya menyambut siang yang pasti akan beranjak sore. Mungkin karena dia sudah bisa membaca keadaan. Bagaimanapun kau akan selalu terlihat salah karena kaulah yang meninggalkan kami.
Beda dengan si bungsu. Dia seperti dingin yang begitu merindukan matahari. Sudah berkali kukatakan, baik secara halus maupun secara terang-terangan, jika ingin bertemu denganmu, pergilah sendiri saja tanpaku. Betapa pun dia sering berkata bahwa pagi takkan bisa membangunkan siapa pun tanpa bantuan matahari. Sepertinya dia belum juga sadar bahwa aku adalah pagi yang masuk dalam penge cualian. Lihat saja, tanpa seorang matahari pun aku sudah mampu bertahan sejauh ini.
Baca juga: Lolongan Tengah Malam – Cerpen Adi Zamzam (Koran Tempo, 22 Juli 2012)
“Aku tidak mengerti Ibu. Bukankah dulu kalian pernah saling mencintai dan saling melengkapi hingga akhirnya lahirlah kami?”
Andai dia bukan bocah kemarin sore yang pernah lahir dari rahimku, mungkin sudah kutampar mulut lancangnya itu. Apakah dia pernah menanyakan itu kapadamu? Tidakkah dia belajar dan lalu mengerti bahwa semua yang tumbuh pasti akan berubah seiring waktu? Dari sesosok mungil yang tak tahu apa-apa hingga kini tumbuh menjadi sosok yang seperti sekarang. Begitu pun juga kami. Iya, dulu kami adalah sepasang pagi dan matahari yang sanggup menyamankan mereka dari cuaca luar. Tapi, siapa pun pasti tidak akan pernah bisa menerka apa-apa yang akan menghadang di depan sana. Entah itu mendung, badai, kemarau, api, air, atau bahkan pagi lain, yang akan mengubah kita menjadi sosok yang lain.
“Lihat, Bu. Dia sudah sekarat,” menyodorkan sebuah foto sosok yang pernah menjadi matahari di rumah ini. Tampak menyedihkan dalam dekapan pagi yang bukan aku. “Apakah Ibu juga mau diperlakukan seperti itu andai keadaannya berbalik kepadamu?” pelan suaranya, tapi terasa keras dalam dadaku.