Ayah Ingin Aku Menari

Setengah dagangan kami sudah habis terjual, kebetulan awal bulan, banyak pegawai dan buruh kebun yang baru menerima gaji. Sorak pasar Minggu kian ramai. Awan hitam yang tadinya jauh dan hanya segumpal kecil, kini mulai mendekat dan semakin besar. Langit berubah gelap. Beberapa orang sibuk menutupi dagangan dengan terpal dan plastik seadanya. Tampaknya hujan akan lebat, karena sudah diberi aba-aba oleh kedatangan gerimis. Seisi pasar kian ricuh. Pembeli berkumpul di tepi-tepi los untuk melindungi diri dari hujan. Hujan miring yang tadinya gerimis, mulai menggila.

Kilat menyambar. Gemuruh di langit membuat aku terperanjat langsung memeluk ibu. Banda kecil meluap. Dagangan kami hanyut.

***

Air bah bercampur tanah dan kerikil tiba-tiba datang dari arah berlawanan. Bunyinya bahkan lebih menyeramkan dari bunyi hujan. Masing-masing orang menyelamatkan diri sendiri. Kayu dan tanaman hanyut dibawa air. Ayam, sapi, kambing, semuanya sudah tampak menghitam, satu warna. Raungan anak-anak, tangisan ibu, pekik kehilangan, menyatu di bawah hujan yang belum jua berhenti. Aku gemetar.

Aku segera berlari ke tambang. Bergegas menuju kerumunan pekerja tambang. Sekarang tempat itu sudah rata dengan tanah. Pohon dan batu-batu besar bekas galodo masih begitu, belum diusik sedikitpun.

“Ayaaah,” teriakku dari jauh.

“Ayah tidak di sini. Barangkali di atas. Coba lihat di sana.”

“Ayaah…”

“Ayah belum berkumpul. Mungkin masih di sana,” aku berlari ke arah telunjuk.

“Ayah tidak di sini. Coba tanya Mak Lek,” Mak Lek adalah orang yang selama ini sangat dekat dengan ayah. Mak Lek juga yang mengajak ayah bekerja sebagai penambang pasir. Mak Lek yang mengajari ayah terbiasa masuk ke goa-goa.

“Mak Lek, ayah di mana?”

“Ayahmu…”

“Mana ayah, Mak Lek? Ayah sudah pulang? Tadi pagi ayah bilang ayah akan pulang lebih dulu dari teman-temannya, ayah akan pulang lebih cepat dari biasanya. Ayah sudah pulang kan Mak Lek?” berderai-derai air mataku.

Mak Lek menggeleng.

“Bawa cangkul ke atas. Bawa cangkul ke atas,” teriakan itu terdengar ramai.

Arsip Cerpen di Indonesia