Ayah Ingin Aku Menari

“Siapa yang tertimbun? Siapa?” pertanyaan itu sayup terdengar. Hanya Mak Lek yang tadi pagi mendengar cerita ayah betapa ia ingin membelikan aku baju merah, baju anak-anak penari piring yang begitu kudiidam-idamkan. Mak Lek yang menyaksikan keras kepala ayah yang masih juga mencangkul pasir meski semua orang sudah berlari meninggalkan goa masing-masing. Hujan lebat tak peduli. Tangisku dengan kasar membasuh tanah yang menempel pada kaos putih. Aku menemukan tangkai cangkul ayah setelah tanah-tanah yang diempas hujan menepi. Di tangkai itu tertulis namaku: Puti.

“Ayah akan ukir nama Puti di cangkul ini. Supaya ayah semangat mengumpulkan uang untuk membelikan Puti baju tari.”

Ayah pernah mengatakan itu padaku di suatu pagi.

***

Aku sudah resmi menjadi anak tari dari sanggar di kampung ini. Seminggu lagi akan ada pesta, sanggar tariku diundang menjadi pengiring pengantin. Aku sudah bisa membeli baju tari dengan uang yang kutabung sendiri, walau pun belum lunas, aku mengangsur pembayarannya pada guru tariku. Ayah memang sudah tiada. Tapi aku yakin, ayah selalu melihatku menari dengan pakaian merah ini. Kerja keras dan keinginanku untuk membuat ayah bangga, kujadikan motivasi agar aku bisa menepati janji ayah pada diriku sendiri. Pada setiap pesta perkawinan, aku berusaha menjadi anak tari yang menari dengan lincah. Aku akan selalu menari untuk ayah, ayah paling hebat di bumi, ayah yang selalu menyemangatiku untuk menjadi anak tari, ayah yang selalu bersemangat membawa cangkul pada pagi hari, ayah yang berjanji sebelum benar-benar pergi. (*)

Arsip Cerpen di Indonesia