Cak Lan di Gedung Putih

Seperti biasa, Cak Lan mengangguk beberapa kali sembari tersenyum. David Beckham pun mengajak Cak Lan untuk foto selfi bersama. Mereka terlihat bahagia dalam foto itu. Cak Lan pun bergantian foto selfi menggunakan HPnya.

***

Raut bahagia di wajah Cak Lan masih jelas terlihat saat hendak memasuki taksi yang sudah dipesankan oleh pihak Gedung Putih untuk langsung ke bandara. Seorang pengawal tadi membukakan pintu taksi dan menyilakan Cak Lan masuk. Sampai tiba-tiba suara memanggilnya dari jauh. Cak Lan menengok ke arah datangnya suara yang mememanggilnya berkali-kali. Seorang lelaki bertubuh agak tambun seperti tergesa-gesa berlari mendekat ke arah Cak Lan. Lelaki itu memakai kacamata dan kulitnya putih agak kekuningan. Lelaki itu langsung mendekati Cak Lan dan langsung memeluk tubuhnya. Mereka berpelukan sekian detik sebelum akhirnya terlepas.

“Pak Ahok, sungguh saya bangga dengan kedatangan Pak Ahok.” Bisik Cak Lan.

“Maaf, Cak, saya telat. Pertemuan antar gubernur berprestasi tadi agak molor dimulainya. Jadinya saya gak bisa menyaksikan pagelaran Bapak.” Tutur Ahok.

Gak apa-apa, Pak Ahok. Terima kasih sudah menyempatkan diri.” Balas Cak Lan.

“Saya tadi melihat pagelaran Bapak lewat streaming internet dan saya terpingkal-pingkal sendiri.” Lanjut Ahok.

Cak Lan tersenyum dan berterima kasih sekali lagi. “Saya bangga dengan apa yang bapak pentaskan, tema yang menarik dan sungguh bikin geli. Ada satu saran saya, Pak, sesekali besok kalo mentas wayang lagi angkat tema yang lebih keren lagi.” Lanjut Ahok lagi sambil tersenyum.

“Tema apa atuh, Pak Gubernur?” Cak Lan mendekatkan kepalanya ke Ahok.

“Yang itu lho…” Jawab Ahok sambil melirik.

“Yang mana?” Cak Lan terlihat penasaran.

Ahok mendekat dan berbisik, “Yang itu lho…”

“Yang mana?”

“Yang itu lho…”

***

“Bangun, Cak, bangun, Cak!!”

Seseorang menepuk-nepuk pundak Cak Lan berulang kali.

“Penonton sudah rame di taman Ampenan Pak, satu jam lagi Bapak akan memulai pentasnya.” Lanjutnya.

Cak Lan membuka mata dan mengusap mukanya berulang kali. Cak Lan kemudian duduk dari pembaringannya. Cak Lan terlihat senyum-senyum sendiri mengingat mimpi indahnya tadi. (*)

 

Catatan:

[1] Lirik lagu ‘Di Udara’ yang dinyanyikan oleh Efek Rumah Kaca.

[2] Becandaan yang sering diucapkan Gusdur. Semua dialog cerita sebenarnya terjadi dalam bahasa Inggris di mimpi Cak Lan, kecuali dialog terakhir dengan Pak Ahok.

Arsip Cerpen di Indonesia