Di Balik Kabut Menyulam Rindu

LALU Alprijan datang dengan sebuah cahaya di tangannya. Katanya, hidupnya juga sangat kelam. Tetapi ia masih punya harapan yang bisa digantungkan dan memberinya arah ketika tersesat. Jadilah kami melangkah bersama dengan satu cahaya untuk satu tujuan. Alprijan telah memberiku harapan. Dia menjanjikan mimpi untuk hatiku yang sunyi.

Satu tahun berlalu dan hidup mulai berubah. Alprijan memulai kehidupannya dengan lebih indah. Ia telah melupakan satu tahun masa duka-laranya. Hidupnya kembali bahagia. Ia bahkan menemukan seorang teman perempuan yang ia suka. Yang siang dan malam tak pemah lepas dari pikirannya. Hidupku juga berubah. Berubah menjadi lebih buruk.

Aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Kini,bukan jarak kami saja yang jauh, tetapi hati kami juga. Andaikan kabut tak pemah mengukir hidup hingga larut. Andaikan aku tidak pemah larut dalam luka atas kepercayaanku kepadanya. Dia telah resmi mengkhianati semua janjinya. Semuanya begitu menyakitkan bagiku. Membuatku berlayar pada kekecewaan yang mendalam. Membuatku bertarung pada kesakitan hati tak terperi.

Semenjak Alprijan menjauh, aku kembali menyendiri. Menikmati setiap alunan kesedihan yang diputar di hadapanku. Aku semakin jatuh.Aku menjerit tanpa suara, merintih tanpa makna. Aku telah salah dengan percaya kepadanya. Berharap mendapatkan cahaya yang ia janjikan. Aku terlalu berharap bahwa seorang insan dapat membebaskanku dari neraka ini. Aku mengangankan sesuatu yang terlalu jauh di bawah ambang kenyataan. Aku memang mendapat perhatiannya, tapi aku tidak menjadi alasan bahagianya.

***

KENAPA? Kenapa hal ini harus terjadi kepadaku? Yang berharap penuh kepadamu sedangkan aku tahu kamu tidak mewujudkan impianku. Andai kamu mau mengerti. Bagaimana rasa sakitnya berharap pada orang yang salah. Bagaimana rasa kecewanya percaya pada orang yang tak tepat.

Alprijan, seandainya kamu tahu soal jeruji itu. Aku tidak pernah ingin tinggal dengan seorang lelaki berusia 40 yang selalu memukulku setiap hari karena impianku. Yang tak pernah segan melayangkan tangannya yang kasar ke wajahku. Seorang lelaki yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik ketika usiaku masih lima, Dibawanya aku dari panti asuhan dan diberikannya aku kepada istrinya yang sakit. Namun kehidupan manis itu baru saja berlangsung dua tahun ketika hidup merenggut ibu angkatku. Menyisakan puih-puih kekecewaan bersamaku dan dia yang mulai mencandu minuman keras dan narkoba. Dan gadis yang kamu sukai itu, dia adalah teman masa kecilku yang dijemput oleh sepasang suami istri yang seharusnya menjemputku. Malang Bu Panti tidak terlalu suka padaku hingga menitipkan gadis itu kepada orang yang benar-benar ia percaya dan menitipkanku pada lelaki yang tampangnya seram dan meragukan itu. Sampai detik ini aku mendengki kepada gadis itu dan menyesali nasib diri atas kehadiran lelaki kasar itu di hidupku.

Arsip Cerpen di Indonesia