Di Balik Kabut Menyulam Rindu

Alprijan, aku resmi meninggalkanmu saat itu. Aku tidak bisa menahan derai hati untuk tidak berlayar di perahu yang sama dengan tujuanmu. Maaf soal keegoisan ini. Sebuah gelas yang pecah akan sulit untuk disusun kembali, seberapa keras pun kita mencoba. Hendaknya di antara kita tiadalah yang memaksa. Andainya memaksa, kita tak akan bahagia.

Sahabat, apabila sebuah gelas telah pecah. Percayalah, ia sudah kehilangan kepercayaannya. Tak perlu lagi bicara soal memaafkan.Tentunya selalu ada maaf di antara kita. Tapi soal kepingannya? Jangan kamu anggap hendak berbahagia. Kepingan itu akan ikhlas, tapi dengan sebuah pengorbanan yang berat. Pengorbanan soal ketajaman yang akan melukai orang lain.

Saatnya hati yang bicara, siapa yang harusnya kecewa? Sahabat, jikalau ada yang harus kecewa di antara kita, hendaknya kau tahu itu siapa. ***

Arsip Cerpen di Indonesia