Aku berusaha menghalau khayalanku ke langit yang membiru. Kulangkahkan kakiku saat seorang menarik lenganku.
“Waktuya berangkat!”
Aku berjalan di belakang seorang anggota tim. Saat tiba di dekat kursi yang kupesan, ternyata kursi itu sedang diduduki seseorang.
“Maaf, Mbak, kursi itu tempatku!” kataku pelan.
“Kalau saya mau di sini?!” ujar sosok itu sambil membuang wajah ke jendela. “Saya tidak mau diapit dua lelaki.”
Hatiku dongkol. Kutemukan lagi orang seperti ini. Aku pernah bertemu dengan karakter seperti dirinya.
Aku diam saja duduk di kursiyang seharusnya didudukinya. Aku suka mengalah terhadap perempuan. Aku diajar mengalah kepada nenek, ibu, kakak, adik, dan kepada siapa pun yang berlabel female. Tetapi aku tidak mungkin mengalah terhadap para koruptor. Aku adalah pemburu koruptor. Mungkin pemerintah sengaja mengundang aku ke Lombok untuk mengawasi penggunaan dana bantuan.
Orang yang menduduki kursiku itu adalah gadis yang kupikirkan tadi. Kusebut dia gadis karena tampilannya sangat muda, segar. Ada semangat yang beraura dari wajah berjilbab itu meskipun dia membuang muka. Dan kini aku tiba pada kesimpulan bahwa dia memang hanya mirip. Bukankah banyak orang yang mirip di dunia ini? Bahkan kata sahabatku yang bernama Muhardin saat kuliah dulu, aku mirip Tom Cruise. Ah, ada-ada saja dia!
Muhardin adalah sahabatku di lembaga mahasiswa yang selalu memotivasiku agar segera melamar Nisa. Katanya banyak aktivis yang mengincarnya. Aku berargumen, lamaran akan aku ajukan setelah tamat. Muhardin memeringatkanku bahwa mahasiswa pun bisa mengajukan lamaran. Dan kemudian aku sangat kecewa dan marah berubulan-bulan, karenayang melamar gadis itu adalah Muhardin. Dia minta maaf. Aku berat memaafkannya. Sangat berat. Dia seorang pengkhianat yang buta. Lupakan!
Sepanjang perjalanan gadis itu tidak membangun komunikasi. Aku pun segan memulai. Aku sangat jengkel. Dia tidak punya etika. Jilbab yang membalut seluruh tubuhnya hanya simbol palsu. Dia pasti tidak tahu bahwa orang yang disingkirkannya dari kursinya adalah salah seorang pelaku perubahan.
Ketika seorang pramugari membawa kue, aku mengatakan bahwa orang di sebelahku tidak membutuh kankue. Sang pramugari berlalu tanpa memberikan kue kepada gadis itu.
“Rasakan pembalasanku!” batinku.