Gadis di Atas Pesawat

“Kita akan mendarat!” Sebuah suara.

Semua penumpang bersiap. Kami berada di atas langit Kota Mataram.

“Ini lebih enak dari sepotong roti!” kata gadis itu sambil mengangkat ponselnya, memotret pemandangan yang mendekat ketika pesawat mendarat.

Agaknya dia sengaja membesarkan suaranya agar aku mendengarnya. Ada sesuatu yang membalik rasaku. Rasa dongkolku perlahan melangkah menjauh. Aku mengagumi keberaniannya. Dia betul-betul berkarakter Nisa.

Aku mendahului gadis itu menuruni pesawat. Ia mengikuti di belakangku. Ada  ransel yang membalut punggungnya. Tiba-tiba ia menyerobot ke depan. Tepat di hadapanku. Kuhentikan langkahku.

“Maaf, Kak, kejadian tadi. Saya minta maaf. Saya ingin melihat pemandangan!” ujarnya rendah.

Aku tersenyum. Ia pun tersenyum.

“Tidak apa-apa!” kataku.

Gadis itu hendak berlalu, tetapi aku menghentikannya.

“Apa kamu mengenal Nisa?” tanyaku spontan.

“Tentu, Kak. Nisa itu ibuku!”

Hatiku berdetak. Jantungku berhenti bergerak. Aku terhenyak. Sedetik kemudian aku menemukan diriku dipapah seorang anggota tim memasuki ruangan beratap.

 

Osella, penulis yang tinggal di Selayar.

Arsip Cerpen di Indonesia