Menjelang senja kali ini, bukan hanya anjing itu yang datang ke dermaga, beberapa orang juga berdatangan untuk menyaksikan matahari terbenam: sepasang kekasih yang masih mengenakan seragam sekolah, sepasang suami-istri yang kelihatannya baru menikah, dan sepasang kakek-nenek.
Anjing itu masih di sana, wajahnya yang lesu pasti akan membuat kita iba jika melihatnya langsung. Ia tak mempedulikan orang-orang di belakangnya. Sepasang kekasih itu berangkulan menyandarkan tubuh mereka pada pagar pembatas dermaga, seperti dalam sebuah film, si gadis berdiri di depan dengan kedua tangan terentang ke samping, rambutnya meliuk-liuk tertiup angin, si lelaki berdiri di belakangnya.
Waktu terasa begitu cepat berlalu, petang mulai turun menyelimuti bumi yang ringkih. Orang-orang itu pergi, mungkin mereka pergi dengan niat akan kembali lagi keesokan harinya, seperti anjing itu. Kini dermaga itu sepi, hanya tinggal si anjing yang semenjak datang, posisi duduknya tetap tak bergeser sedikit pun.
Anjing itu tak tahu kapan majikannya akan kembali. Ia teringat perpisahannya dengan majikannya di ujung dermaga itu, tujuh tahun lalu. Saat itu, beberapa jam sebelum berangkat ke dermaga, si anjing melihat majikannya dimarahi sang ayah di ruang tamu.
“Sudahlah, tak usah kamu lanjutkan sekolahmu lagi! Buat apa juga?” ujar ayahnya.
“Tapi aku masih ingin sekolah, ayah.”
“Kalau ayah sudah bilang tidak, ya tidak!”
Lelaki bertubuh gempal dengan mata sipit itu pergi. Tangis si gadis pun pecah. Si anjing berusaha menghiburnya dengan berguling-guling dan menyalak-nyalak manja di lantai. Tapi usahanya sia-sia, wajah si gadis tetap berselimut mendung.
Gadis itu mengangkat si anjing, mendudukkannya di kursi. “Aku tidak lulus, Kirani! Kamu tahu? Aku tidak lulus…!” gumam si gadis di depan wajah anjingnya. “Ayah melarangku melanjutkan sekolah lagi! Apa yang harus kulakukan?” Si anjing hanya mengeluarkan suara lolongan lirih, seakan mengerti apa yang dirasakan majikannya.
Berhari-hari kemudian, gadis itu lebih banyak berdiam diri di dalam kamar, sering kali duduk di dekat jendela. Dan sudah berhari-hari ia tidak pergi ke dermaga.
Tujuh hari kemudian, si anjing melihat majikannya memakai sweter merah jambu dan rok bermotif bunga-bunga sakura, majikannya memasang tali penuntun itu di leher si anjing. Si anjing tahu sore itu majikannya akan mengajaknya pergi ke dermaga, sebelumnya ia mengira majikannya tidak akan pergi ke dermaga itu lagi, tapi dugaan anjing itu salah.