Perempuan dan Seekor Anjing yang Kesepian

Mereka pun sampai di dermaga beberapa saat menjelang terbenamnya matahari. Seperti biasa, mereka duduk di ujung dermaga, menghadap ke arah jatuhnya senja.

Gadis itu diam dalam duduknya, wajahnya sendu, entah apa yang ada di pikirannya. Biasanya ia selalu bercerita kepada si anjing tentang kejadian-kejadian lucu yang ia alami di sekolah. Bahkan, si gadis pernah bercerita tentang seorang lelaki yang menyatakan cinta kepadanya, Sarmin namanya. Dan si anjing selalu menjadi pendengar yang baik tanpa perlu berkomentar apa-apa.

Anjing itu bingung, ketika sudah setengah jam yang lalu matahari terbenam menyisakan hawa dingin yang dibawa angin laut, majikannya masih belum beranjak dari duduknya. Seharusnya beberapa menit setelah matahari surup, ia akan beranjak dan mengajak anjing itu pulang. Si anjing khawatir melihat majikannya sesekali menjambak-jambak rambutnya sendiri.

Malam pun makin merambat, bulan berbentuk setengah lingkaran tersenyum kecut di atas kepala mereka. Si gadis masih diam, anjing itu melolong-lolong kecil, seakan mengajak majikannya pulang karena malam sudah makin larut.

Malam itu cahaya berpendar dari lampu-lampu perahu yang tertambat di tengah laut. Ketika si gadis bangkit, anjing itu senang dan ikut bangkit, ia mengira majikannya akan segera mengajaknya pulang. Tapi si anjing salah lagi, si gadis bangkit bukan untuk pulang, gadis itu justru mengikat tali penuntun si anjing pada pagar pembatas, beberapa langkah dari ujung dermaga. Anjing itu menjadi makin kebingungan.

Setelah mengikat tali itu erat-erat, gadis itu jongkok di depan si anjing. Anjing itu pun menjilat-jilat pipinya. “Sudah kuputuskan, Kirani, aku akan pergi sekarang juga. Selamat tinggal, aku akan menunggumu di surga…” ia memeluk si anjing erat, mengelus-elus kepalanya, menciumi wajahnya, setelah itu berjalan pelan ke ujung dermaga, kemudian terjun ke laut setelah melambaikan tangannya kepada si anjing.

Anjing itu menyalak-nyalak keras, mencoba berlari menghampiri majikannya, tapi langkahnya terhalang oleh tali itu. Si anjing mencoba menggigitnya, tapi gagal, tali itu terlalu kuat, entah terbuat dari apa. Dan sepanjang malam itu, si anjing hanya bisa melolong-lolong lirih, menyanyikan lagu kehilangan.

***

Keesokan paginya, ayah si gadis datang ke dermaga, wajahnya terlihat sangat khawatir, mungkin karena anaknya tidak pulang. Ia pun menemukan si anjing terikat di pagar pembatas dermaga itu. Lelaki itu kaget. “Di mana anakku, Kirani?” tanya ayah gadis itu. “Siapa yang telah mengikatmu di sini?” Anjing itu hanya melolong-lolong kecil yang entah apa maksudnya.

Arsip Cerpen di Indonesia