Cerpen Eko Setyawan (Malang Post, 19 Agustus 2018)

Di dekat tempat penyembelihan anjing itu, orang-orang sibuk menjajakan dagangannya dengan harga yang murah. Harga yang ditawarkan dengan serendah-rendahnya. Hal itu dilakukan untuk menarik pembeli. Dan alhasil, pembeli akan berjubel di sana. Di tempat itu, sesekali terdengar suara anjing yang sedang disembelih.
Suara kaingan anjing yang begitu keras dan jika didengar dengan seksama menunjukkan bahwa anjing-anjing itu sedang merintih dan merasakan rasa sakit yang amat luar biasa. Anjing-anjing yang disembelih dengan keji. Disembelih dengan kekejaman manusia. Disembelih dengan suara-suara ketakutan dari anjing-anjing yang hampir purna hidupnya.
Atau jika boleh kukatakan dengan sejujur-jujurnya, anjing-anjing itu bukan disembelih selayaknya hewan-hewan yang akan dimakan pada umumnya. Bukan disembelih dengan mata pisau yang terasah tajam. Bukan dengan menggorok leher lalu dengan cepat darah muncrat ke tanah. Tanpa didahului rapalan doa untuk memohon berkah dari Yang Mahakuasa. Tanpa pernah memiliki belas kasih sebagaimana hakikat manusia seharusnya.
Anjing-anjing itu disembelih. Bukan. Bukan disembelih. Tetapi dipukuli dengan batu. Dipukuli dengan kayu. Mula-mula, anjing itu dimasukkan ke karung. Lalu dieksekusi serupa penjahat yang kepergok massa. Ia dipukuli. Bedanya kali ini, ia tidak dipukuli beramai-ramai. Ia tidak di massa. Tetapi digebuk berkali-kali oleh sang juru pencabut nyawa.
Katanya, jika darah anjing tidak tumpah ketika dibunuh, rasanya akan nikmat. Lebih nikmat dari daging apapun. Jadi wajar saja jika anjing-anjing itu tidak disembelih, tetapi dipukuli agar tidak ada setetes darah pun keluar. Dan dengan ini, kurasa aku bahkan kau berhak menghakimi pembunuh anjing itu sebagai manusia paling kejam di dunia. Bahkan jika boleh kukatakan dengan sejujur-jujurnya, mereka bukan manusia. Karena mereka begitu kejam. Mengerikan.
Kau boleh membayangkan dirimu menjadi anjing-anjing itu. Merasakan rasa sakit yang dibuat oleh manusia. Jangan pernah membayangkan menjadi pembunuh. Itu adalah hal paling bodoh jika benar-benah kau lakukan. Kekejaman seringkali lebih membahagiakan dari pada rasa belas kasih.
***
Di tempat ini, kau bisa membeli apa pun dengan tak perlu merogoh saku terlalu dalam. Di tempat ini pula, barang yang kau cari tersedia. Bekas, baru, atau pun barang curian. Lengkap. Kau tinggal menawar dan memastikan barang yang kau cari berkualitas baik.
Pasar Klitikan ini telah menjadi penopang kehidupan banyak orang. Ada yang menggantungkan kehidupan sepenuhnya di pasar ini. Memang, pasar ini telah menghidupi dan menyambung nyawa banyak orang. Sum Merah salah satunya. Saban hari ia pergi ke pasar ini untuk menjajakan barang dagangannya.
Sum Merah menjajakan telur berkeliling pasar. Sepanjang hari, ia menjual telurnya di pasar. Jika sedang beruntung, tak sampai seharian penuh dagangannya sudah ludes. Sum Merah menjual telur ayam jawa yang ia peroleh dari ayam-ayam miliknya. Tidak terlalu banyak, tetapi cukup menguras tenaga ketika menjualnya. Terkadang, tetangganya juga menitipkan telur-telur ayam padanya. Tentu saja dengan sedikit upah dari hasil penjualan.
“Sum, jika kau besok ke pasar, aku nitip beberapa telur ya. Kemarin ada beberapa telur mbrojol dari ayamku,” kata Yu Mirah ketika berpapasan di jalan dengan Sum Merah selepas dari pasar.
“Iya, Yu, nanti sore atau besok pagi saya ambil ke rumah njenengan,” timpal Sum Merah.
“Iya, Sum. Gimana dagangan hari ini? Habis?” tanya Yu Mirah.
“Alhamdulillah, Yu.”
“Wah, semoga besok telur-telurku juga habis ya Sum,” kata Yu Mirah disertai sunggingan senyum.
Sum Merah membalas senyum Yu Mirah. Ia bergegas pulang melanjutkan pekerjaannya.
Sum Merah adalah perawan dari Gandu. Ia lahir tanpa bapak. Bapaknya tewas ketika ibunya mengandung saat terjadi pembersihan orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan jendral. Ayahnya dijemput paksa di rumah dan dibawa pergi dengan truk lalu tak kembali sampai sekarang. Tak ada yang tahu ke mana muaranya.
Berdasarkan kabar yang beredar, ayahnya tergabung dalam organisasi yang dilarang oleh pemerintah. Katanya membahayakan dan kejam. Tapi siapa yang tahu. Siapa yang sebenarnya kejam dan siapa yang sebenarnya berbuat jahat. Bukankah setiap perbuatan kejam dan jahat itu relatif. Maksudnya, relatif tergantung dari mana suatu kekejaman dan kejahatan itu dipandang.
Jika kejahatan dilihat dari korban, tentu saja pelaku harus dihukum dengan setimpal. Dihukum seberat-beratnya. Jangan pernah diberi ampun agar tidak terjadi hal serupa. Agar menjadi peringatan bagi orang yang berniat jahat. Tetapi sebaliknya, jika dilihat dari sudut pandang dari pelaku atau orang di sekitarnya, setiap kejahatan harus dilihat latar belakangnya. Begitulah seharusnya setiap kejahatan dipandang. Harus dipertimbangkan dengan matang sebab dan akibat dari tindakan itu.
Ibunya juga sudah renta. Tak mungkin untuk berkerja. Sum sendiri bekerja sejak berusia dua belas tahun. Semula ia diajak ibunya berjualan ketika libur sekolah. Tapi karena terlampau sering, Sum Merah pun memutuskan untuk berdagang sendiri. Membantu ibunya yang sudah tak mampu lagi menjual telur. Kini di usianya yang menginjak delapan belas tahun, ia masih berusaha untuk menekuni pekerjaannya.
Pada umumnya, remaja perempuan yang berusia belia di desa ini akan lebih memilih bekerja ke luar negeri. Ke Malaysia misalnya. Di sana banyak yang menjadi buruh pabrik atau pembantu rumah tangga. Dengan jaminan gaji yang agak menjanjikan. Lebih banyak beberapa kali lipat jika harus bekerja di desanya.
Tapi Sum Merah tak ingin meninggalkan ibunya. Ia memilih bekerja seadanya sementara ini demi merawat ibunya. Meskipun sebenarnya, dalam hati ia sangat ingin sekali seperti ke luar negeri bekerja seperti halnya teman-teman di desanya. Tapi apa boleh buat. Terkadang keinginan harus dipendam dalam-dalam untuk menutupi keinginan lainnya.
***
Pagi hari sebelum berangkat menjajakan dagangannya, tak lupa Sum Merah mampir ke rumah Yu Mirah untuk mengambil titipan telur-telur untuk dijual. Ia mampir lalu bergegas ke pasar. Sum menaiki angkudes menuju jalan raya yang tempatnya jauh dari kampung. Lalu oper ke bus besar untuk mencapai pasar Klitikan.
Di bawah teriknya sinar matahari, Sum Merah sampai di muka pasar, ia mulai menjajakan dagangannya pada orang-orang yang dijumpai. Ia menawarkan telur-telur itu pada orang-orang. Di dahinya menetes keringat dan melunturkan bedak yang ia bubuhkan sebelum berangkat.
“Satunya berapa, Sum?” tanya seorang pemuda berpakaian necis. Ia belum pernah menemuinya di pasar sebelumnya. Tapi anehnya, pemuda itu mengetahui namanya.
Sum Merah bingung apakah harus senang atau sedih. Karena pemuda di hadapannya menyiratkan kebuasan. Ia tahu dari cara pemuda itu memandangnya. Juga dari caranya berbicara menggoda. Ia takut. Tetapi tak tahu apa yang harus dilakukan.
“Seribu, Mas,” kata Sum membalas ucapan pemuda itu. Bukan karena ingin benar-benar dagangannya laku, tapi terlebih karena takut jika terjadi sesuatu padanya.
“Tidak lebih? Aku bisa membayar daganganmu asal kau mau ikut denganku,” goda pemuda itu.
Sum merasa dilecehkan. Ia meninggalkan pemuda itu dan bergegas menuju tempat lain.
Memang nasib sedang tidak berpihak pada Sum Merah hari ini. Sampai menjelang azan isya, dagangannya belum habis. Ia akhirnya memutuskan pulang dan membawa dagangannya kembali esok hari. Tapi sudah tidak ada bus lagi semalam ini. Bus hanya sampai pukul lima sore. Sum pun memutuskan untuk berjalan kaki.
Nahas, diperjalanan pulang, nasib baik tidak berpihak pada Sum Merah. Ada hal tidak diketahuinya yang serta merta mengancam dirinya. Beberapa pemuda telah mengincarnya. Dengan bermodalkan mobil, pemuda itu mengikuti Sum Merah sejak dari pasar. Mereka telah merencanakan rencana jahat.
Sum Merah diculik dan diperkosa. Ia dibawa ke sebuah bekas pabrik tebu yang sudah lama tidak beroperasi. Di sana ia diundi oleh pemuda-pemuda itu. Mereka telah menjadi Tuhan bagi Sum Merah dalam semalam. Uang hasil berjualan seharian raib. Juga dagangan yang kelak menyambung hidupnya.
Sum ditinggalkan di bekas pabrik tebu itu. Ditinggalkan dengan mengenaskan. Apakah laki-laki tidak memikirkan bagaimana perasaan perempuan. Mengapa laki-laki hanya memikirkan diri mereka sendiri. Apa bedanya pemuda itu dengan hewan. Begitulah pikir Sum.
Dalam keadaan mengenaskan itu, Sum berusaha menguatkan dirinya. Ia ditemukan oleh seorang juru tulis di kelurahan. Juru tulis itu membawanya ke kantor polisi. Sum bangkit dengan lemas dan meninggalkan pabrik itu menuju kantor polisi. Ia menceritakan semua kejadian pada polisi. Sayangnya, polisi tak pernah percaya pada kisahnya.
“Kau ini mengada-ada. Di kota ini, tidak ada pemuda yang memiliki mobil selain orang-orang kaya. Apa kau pikir mereka tertarik denganmu?” tanya salah satu dari bagian dari mereka.
Sum Merah tak menjawab. Ia menangis dan sedang menyamakan dirinya dengan anjing-anjing di tempat penyembelihan dekat pasar.