Musim Panen dan Hewan Kurban

Beberapa hari menjelang Idul Adha, Syarif mulai mencoba menerima keadaannya kalau tahun ini ia tidak akan bisa membeli hewan kurban. Demi bisa membayar uang kuliah dan uang sekolah anak-anaknya. Itu pun masih membuatnya bingung bagaimana mengusahakan modal untuk membeli pupuk padi nantinya.

“Sudah beli hewan kurban, Rif?” Tanya Irsyad tetangganya selepas salat Isya berjamaah di musala dan tentu lumayan mengagetkan Syarif.

Tadinya Syarif ingin menjawab apa adanya. Keadaan panen yang buruk serta biaya-biaya keluarga yang perlu ditutupi. Tapi karena ia dan Irsyad sudah cukup lama ada persaingan gengsi tersembunyi, ia jawab kalau ia belum sempat melihat-lihat hewan kurban di pasar. “Mungkin besok baru bisa ke pasar,” lanjutnya.

Baca juga: Azan untuk Bapak – Cerpen Haryo Pamungkas (Radar Banyuwangi, 19 Agustus 2018) 

“Jangan kelamaan, Rif. Bisa-bisa kehabisan dan harganya tambah mahal,” ujar Irsyad lalu mohon diri karena sudah sampai di depan pagar rumahnya. Syarif pun berjalan sendiri. Rumah Syarif berjarak beberapa rumah dari rumah Irsyad. Begitu sampai di depan rumahnya, Ia tidak langsung masuk. Langkahnya terhenti persis di depan pintu. Tangannya memegang gagang pintu tanpa mendorongnya. Masalah hewan kurban ini begitu mengganjal di kepalanya. Melebihi masalah panennya yang buruk ataupun biaya kuliah anaknya yang mahal di tiap semester. Lalu ia lepaskan genggamannya dari gagang pintu. Kemudian duduk di kursi depan di bawah lampu yang agak redup. Ia sandarkan punggungnya tidak dengan tegak. Kepalanya terasa sesak. Hingga beberapa menit kemudian baru ia mendapatkan celah, bersamaan dengan Neni yang memintanya masuk ke dalam rumah.

***

Satu hari sebelum Idul Adha, seekor kambing tiba di depan rumah Syarif. Iman yang membawanya dari pasar. Istri Syarif sempat bingung dan mengira kalau kambing itu salah alamat. Tapi Syarif lekas memberitahunya kalau ia yang membeli kambing tersebut dan mereka jadi menyembelih hewan kurban besok. Neni meminta penjelasan bagaimana Syarif bisa membeli kambing dengan keuangan mereka yang pas-pasan. Ia menjawab, setelah dihitung-hitung, tengkulak salah hitung dengan jumlah padi yang mereka beli dari Syarif.

“Mereka kurang bayar, Bu. Jadi Bapak tagih. Untungnya mereka sadar sendiri dan mau bayar kekurangannya,” tambahnya.

“Bapak kok gak bilang-bilang Ibu,” protes Neni.

“Biar ada kejutannya, Bu,” gurau Syarif.

Neni salah tingkah. Ia bilang, Syarif sok jadi anak gaul seperti muda-mudi sekarang.

“Biarin,” timpal Syarif, “yang penting bisa kurban.”

Arsip Cerpen di Indonesia