Tanah Pancuran

Malam ini, tidak ada kesepian seperti biasa. Warga yang biasanya bersibuk dalam tidur, malam ini mengaji bersama. Mereka melantunkan ayat-ayat suci Alquran yang sudah menjadi tradisi saat ada yang meninggal.

Sudah larut malam. Beberapa orang sudah mempersiapkan diri untuk pulang dengan beberapa alasan yang hampir sama. Misalnya, takut istri kelamaan menunggu atau takut istri tidak bisa tidur.

Akhirnya tinggal beberapa orang yang berjaga di rumah duka.

Mereka saling bercerita, tak terkecuali soal kematian itu.

“Kok aneh ya, Pak? Masa mati bareng-bareng?” tanya Pak Taufik yang terlihat kebingungan.

Baca juga: Walat Malioboro – Cerpen Purwadmadi (Kedaulatan Rakyat, 15 Juli 2018) 

“Saya juga nggak tahu, Pak. Padahal, tadi Pak Zainal masih di kebun bareng saya,” jawab Solekan yang terlihat kebingungan juga.

“Baru kali ini terjadi kematian paling aneh di kampung kita, Pak,” lanjut Taufik yang makin mencairkan suasana.

“Ya, sudah, kita ambil hikmahnya saja. Toh kita belum tahu penyebabnya,” jawab kiai kampung, yang seketika mengheningkan suasana.

Waktu menuju ke sepertiga malam. Beberapa orang yang berjaga di rumah duka sudah tertidur.

Mereka menutup seluruh tubuh dengan sarung. Itu tanda malam benar-benar dingin. Tinggal Pak Ustadz dan Pak Taufik yang belum tidur. Padahal, sebenarnya Pak Taufik juga ingin sekali memejamkan mata.

“Taufik, sini!” panggil Pak Ustadz yang duduk di pojokan sambil menikmati kopi.

“Iya, Pak,” jawab Pak Taufik.

“Ada apa, Pak?”

“Sini, duduk. Kubagi cerita,” sahut Pak Ustadz yang berusaha meyakinkan Pak Taufik

***

Dulu, sebelum desa ini dikenal dengan kedamaiannya, penduduk sangat kekurangan air. Untuk sekadar minum pun, warga harus berbagi. Akibat krisis air itu, beberapa orang memilih meninggalkan desa.

Suatu hari, ada pemuda berpesan pada orang desa untuk tidak meninggalkan Banyuurip. “Sebentar lagi kita pasti tidak kekurangan air,” kata pemuda itu meyakinkan warga.

Arsip Cerpen di Indonesia