Tepat pada malam Jumat, pemuda itu berjalan menuju ke tanah pancuran. Itulah tanah yang diyakini warga tidak boleh disentuh karena angker.
Pemuda itu sampai di tanah di ujung timur desa. Banyak pohon besar dan menjulang tinggi, tanda betapa subur tanah itu.
Baca juga: Rumah Hantu – Cerpen Teguh Affandi (Kedaulatan Rakyat, 22 Juli 2018)
Tak berselang lama, meski takut-takut, pemuda itu menggali tanah. Dia mengabaikan rasa takut itu, karena yakin hanya di tanah itulah ada sumber air. Belum dalam menggali, dugaan pemuda itu terbukti. Tanah itu subur dan memiliki sumber air yang sangat berguna bagi warga.
Dengan bangga ia pulang untuk mengabarkan pada warga. Senyum bahagia terpancar di wajah pemuda itu. Akan tetapi, sesampai di rumah ia tak menemukan kebahagiaan sedikit pun dari warga. Ia mendapati beberapa warga menangis. Benar, ada sepuluh warga meninggal ketika ia berhasil menemukan sumber air itu.
Dengan rasa takut dan penasaran, Taufik memberanikan bertanya. “Siapa pemuda itu, Pak?”
“Dia bapakmu, Fik,” jawab Pak Ustadz dengan nada agak keras.
***
Hari sudah menjelang siang. Beberapa ibu bergegas menuju ke beberapa rumah duka dengan pakaian hitam-hitam. Tak berselang lama, sepuluh mayat pun diberangkatkan beriringan dan dikuburkan di tanah yang sama: tanah pancuran. (44)
– Suroso dari Banyuurip, Kecamatan Pancur, Rembang. Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini seniman di Garawiksa Institute.