Lelaki Herbivora

Akhirnya cinta kami purna malam ini: Malam Kamis, 04 Oktober 1956. Kami duduk di bawah cahaya temaram. Rambut Sofi harum berombak, beberapa helai menjuntai ke bahuku. Wajahnya semakin manis dengan pipi kenyal berparam warna kuning kecokelatan dibias cahaya kandil yang bergantung di cagak kayu. Kesenyapan dan tingkah angin yang menyusup di celah ventilasi merestui adegan percintaan kami yang sakral.

Baca juga: Pohon Tembuni – Cerpen A.Warits Rovi (Padang Ekspres, 21 Januari 2018)

Sofi masih bersandar ke dada, matanya sunyi dan dingin, kutatap serasa sebutir permata yang kutemukan di sebuah jazirah. Dan masih kurasakan sisa hangat cucup bibirnya bermukim pada datar bibirku sebagai bekas sebuah rindu. Aku sudah tidak perjaka dan Sofi sudah tidak perawan. Semula yang kami rasa adalah jarum dingin malam, lalu berganti ceceran peluh, hangat dan gerah. Sofi tersenyum di antara kepungan butir keringat yang berbintik di sekitar hidung dan keningnya.

“Ayo, Mas. Makan dulu kue-kue ini,” pinta Sofi kepadaku sambil tangannya menggerayang ke aneka makanan di atas meja. Lalu, meletakkannya tepat di hadapanku.

“Maaf, Sayang. Aku tidak terbiasa makan makanan itu.”

“Lalu makanan apa yang Mas Hamid inginkan? Mohon maaf, Mas, bila keluarga saya hanya punya kekuatan sederhana untuk membeli makanan ini. Tidak istimewa,” kepala Sofi diangkat dari datar dadaku yang sedari tadi ia sandari. Sofi sedikit tersinggung.

“Sayang. Justru makanan ini terlalu istimewa bagiku. Aku tidak bisa makan selain rumput dan daun, Sayang,” aku berusaha menjelaskan dengan jujur seraya kubelai rambutnya.

“Jangan bercanda, Mas. Saya ingin malam pertama ini indah dengan makan bersama.”

“Baiklah kalau begitu, Sayang. Ayo kita makan bersama.”

Baca juga: Memoar Pesta Pernikahan – Cerpen A Warits Rovi (Suara Merdeka, 19 Juni 2016)

Seketika Sofi tersenyum. Tangannya mulai mengambil satu jenis kue dari piring beralas daun pisang, sedangkan tanganku mengambil daun pisang itu, lalu kukunyah sampai halus dan kutelan hingga daun pisang yang agak lebar itu habis tak tersisa. Ternyata sedari tadi Sofi urung memakan kue yang telah ia genggam. Ia keheranan melihatku lahap makan daun pisang. Sepasang matanya masih terbelalak.

“Maaf, Sayang. Aku telah meneteskan benih herbivora ke dalam rahimmu. Tapi, itu lebih mulia ketimbang benih koruptor. Tak apa kelak anak kita makan daun, itu lebih bermartabat daripada makan uang rakyat.”

Sofi masih keheranan. Sepasang matanya tetap terbelalak memandang tajam ke wajahku. Entah apakah ia bahagia punya suami herbivora atau mungkin sebaliknya. (*)

 

A. Warits Rovi. Lahir di Sumenep, Madura. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai, dan artikel dimuat di berbagai media. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit “Hilal Berkabut” (Adab Press, 2013).

Arsip Cerpen di Indonesia