Firasat

Bagaimana ini? Dadaku berdegup kencang. Kenapa? Apa aku terkena lemah jantung. Aku mulai penasaran dengan apa yang terjadi. Kucari informasi di setiap lini. Aku ke internet, lalu mengetik beberapa kata. Saat membaca hasil pencariannya, aku jadi bingung.

Bercerita pada orang tua? Aku sudah melakukannya. Kukatakan pada ibu, “Aku takut, bu.”

“Takut kenapa?” tanya ibu, bingung, mendengarku di telepon. “Apa seseorang mengganggumu?”

Baca juga: Darah Daging – Cerpen Kartika Catur Pelita (Haluan, 05 Agustus 2018)

Aku menggeleng. Tentu tak terlihat oleh ibu. “Aku… aku takut jika aku menghilang dari dunia …” sunyi sepi, tak ada suara. Ibu mungkin tak mengerti, seperti pun aku.

Aku sedang takut jika suatu saat aku harus kembali ke tempat asal. Tanpa banyak bekal. Bekal seperti apa? Seperti cahaya yang mungkin meneman saat sendiri. Ah, kurasa ini akan segera terjadi. Kau tahu apa yang dikatakan teman-temanku saat kukatakan pada mereka bahwa aku mendapat firasat bahwa aku akan pergi.

“Itu bagus,” kata mereka. “Kau beruntung. Kau bisa melakukan hal yang baik. Melakukan yang bisa kau lakukan. Tanpa berbuat dosa. Menambah amal.”

Apa seperti itu? Tapi meski begitu, aku kembali merasa takut. Takut jika firasat itu benar. Dan, saat aku sadar jika itu firasat atau bukan, aku mungkin telah hilang. Jadi, tentu tak ada yang bisa kulakukan.

Apa yang kutakutkan lagi? Bukankah seharusnya aku melakukan banyak hal sekarang, bukan duduk dan meratap. Ah, itu karena aku masih sendiri. Aku tak tahu bagaimana nanti saat aku pergi. Siapa yang akan mengirimiku doa? Bagaimana jika tak ada lagi yang mengingatku?

Baca juga: Ke Mana Perginya Kucing-Kucing – Cerpen Erwin Setia (Haluan, 25-26 Agustus 2018)

Semakin hari, aku makin tak tenang. Mungkin, aku harus mengomsumsi obat penenang. Tetapi kenapa saat melihat obat aku tiba-tiba pusing. Ah, aku kembali takut pada benda-benda kecil putih dan kuning itu.

Sampai suatu hari, aku mengunjungi rumah sakit, bertemu seorang dokter. Aku bercerita. Memberi tahu semua tubuh yang terasa sakit akhir-akhir ini. Aku takut kalau saja menderita penyakit dalam. Tapi tak lama, dokter memberiku kartu nama. Menyuruhku mengunjungi dokter lain.

***

Hari ini aku mendatangi dokter itu. Melihati nama yang tertulis di sana. “Kenapa psikolog?”

“Saya mendengar cerita Anda,” katanya tersenyum, tampan, ah, sangat tampan.

Arsip Cerpen di Indonesia