Salwa dan keluarga mulai khawatir. Mereka semua berdiri di halaman rumah. Salwa mencoba menghubingi nomor Fata. Panggilan tidak masuk. Ia mencoba menghubungi kembali. Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan. Aura Salwa mulai masam. Ia khawatir dengan kondisi Fata dan keluarga. Salwa mencoba telpon bundanya Fata. Nomornya tidak aktif. Salwa meminta abahnya untuk menghungi abah Fata. Nomornya terdengar masuk, tetapi panggilan tidak di jawab.
Keluarga yang menanti rombongan pinangan mulai resah. Di Aceh Jaya keluarga Fata telah kocar kacir. Mereka berlarian meninggalkan rumah menuju perbukitan. Air laut bercampur lumpur hitam menghantam rumah-rumah warga. Fata dan bundanya telah telah hilang ditelan gelombang tsunami dengan segenap rombangan lainnya yang tidak sempat menyelamatkan diri. Lampu semua padam dalam sekejab, jaringan telpon mulai terganggu. Abah Fata mencoba mengirim pesan pada ayahnya Salwa.
Handphone berdering tanda pesan masuk. Ayah Salwa membuka pesan yang sudah lama menanti kabar rombongan. Mereka membaca sama-sama pesan itu “Assalamu’alaikum, kami di Aceh Jaya dilenda gempa dan tsunami. Fata dan bundanya telah menghembus nafas terakhir di telan badai tsunami.”
Mengetahui kabar itu hati Salwa bergetar dahsyat melebihi dahsyatnya gempa dan tsunami. Hati Salwa bagai dihantam rencong berkat. Mata beningnya mulai mencucurkan gumpalan mutiara. Semuanya merasa syok. Salwa tak kuasa menahan pedihnya berita ini. Dalam sekejap semua keluarga menetaskan air mata. Salwa mulai lesu tidak berdaya, tiba-tiba ia pun jatuh pingsan.
Sejak kejadian itu Salwa patah semangat. Dia sering mengasingkan diri dari keramaian. Waktunya dihabiskan hanya di kamar sederhana untuk mengulang pelajaran lama, membaca qur’an dan berzikir. Sangat jarang ia keluar rumah walau hanya untuk menghembus udara segar. Rekan-rekannya mulai kehilangan sahabat cantik dan shalehah.
Salwa tidak ingin lagi berbicara tentang pria. Niatnya untuk menikah telah dikubur dalam-dalam. Orang tua Salwa mulai khawatir dengan kondisinya yang mulai menghindar dari pria. Usianya kini beranjak 30 tahun. Ayah Salwa mencoba mengenalkannya dengan anak teman kerjanya. Pemuda tampan itu juga pernah mondok empat tahun walau tidak sehebat Fata. Kini pemuda asal Padang itu berdagang di jalan lintas medan banda Aceh tepat di Kabupaten Pidie Jaya.
Setahun terakhir Salwa seolah mendapat secercah cahaya dalam hidupnya. Hadi pria Padang mampu menaklukkan hati Salwa yang sebelas tahun mengeras. Hati Salwa melebur cepat saat mengenal pribadi Hadi. Sosok pemuda bersahaja itu mampu memikat perasaan Salwa.
Usaha ayahnya untuk menghidupkan kembali semangat Salwa berbuah hasil. Kedua keluarga saling sepekat untuk meresmikan hubungan Salwa dengan Hadi pekan depan. Benih-benih cinta mulai tumbuh subur di relung hati kedua insan yang sedang dimadu asmara. Rencananya persepsi pesta pernikahan diadakan tanggal delapan desember 2016 setelah seminggu akad nikah terucapkan. Ribuan undangan telah dibagikan. Keluarga Salwa yang berjauhan telah tiba di rumah bahagia. Keluarga dan rombongan Hadi dari Padang, Sumatera Barat telah sampai di Pidie Jaya sehari sebelum pesta. Mereka menginap di toko tempat Hadi berjualan. Rombongan itu begitu senang menghirup udara Aceh. Ada yang baru pertama kali mereka menginjak kaki di serambi mekah.
“Aceh sangat indah dan islami,” ucap seorang ibu asal Padang yang ikut rombongan Hadi.
Malam itu seakan berjalan lamban. Hadi dan Salwa serasa tidak sabaran menanti mentari pagi. Pelaminan yang telah didekorasi indah seolah memanggil mereka untuk bersanding memadu kasih. Di seperti tiga malam Hadi mengirim pesan pada Salwa. “Sayang bangun, kita tunaikan tahajud sama-sama. Nantikan abang besok di pelaminan kita.”
Salwa tersenyum bahagia, pria yang mengirim pesan akan menjadi raja dipelaminannya besok. Keduanya melaksanakan tahajud di tempat berbeda.
Detik-detik ujung tahajud bumi Aceh mulai bergetar. Kabupaten Pidie Jaya terasa berayun kencang. Dalam waktu sekejap beberapa rumah roboh. Lampu mulai padam. Pekat malam makin mengental. Suasana rumah Salwa jadi tak karuan. Ia kembali teringat kisah pilu sebelas tahun silam.
Pagi hari dalam cahaya remang-remang ayah Salwa mendapat telepon. Kabar duka kembali menyelimuti Salwa. Tante Hadi mengabarkan toko tempat Hadi bermalam telah roboh akibat gempa Aceh 8 Desember 2016 yang terjadi menjelang shubuh. Bangunan dua lantai itu rata dengan tanah dan sederatan toko lainnya. Hadi dan tiga kerabatnya tertimbun puing-puing bangunan. Semua rombongan yang bermalan di toko telah menghembus nafas terakhir. Hadi tertimpa kontruksi beton di bagian kepala dan patah tulang. Nyawa tidak sempat tertolong.
Tangisan Salwa pecah. Perasaannya bagai dihantam petir keras. Jiwanya seakan disayat sembilu. Perih duka yang melandanya bagaikan luka disiram garam. Keluarga tidak kuasa membendung luka hati Salwa. Semua kerabat Salwa menguraikan air mata atas insiden ini. Tubuh Salwa mulai kedinginan. Dunia serasa berhenti berputar. Bunda Salwa memeluk tabuh gadis malang itu dengan linangan air mata.
“Bersabarlah sayang, Allah tidak pernah berniat buruk pada hamba-Nya,” ucap bunda merasa iba.