Di Belakang Rumah Yanti

Baca juga: Kesetiaan Kura-kura – Oleh Arrum Lestari (Suara Merdeka, 04 Desember 2016)

Dari kejauhan terlihat gundukan pasir ditanami pohon yang menghijau. Ingin rasanya terbang mengelilingi pesawahan yang luas. Dan berhenti di pasir itu. Ciptaan Allah yang begitu menakjubkan. “Coba jika aku tahu dari dulu tentang pemandangan ini,” kataku. “Kamu suka?” Yanti ingin memastikan. “Tentu saja,” bisikku.

Aku memotong buah mentimun, mangga, dan jambu air yang sudah dicuci bersih. Sedangkan Yanti membuat ulekan sambal. Garam, cabai rawit, gula merah, dan asam dihaluskan hingga kental. Lalu air matang yang telah tersedia di dalam botol dituangkan sedikit. Membuat selera makan petis kian tergugah. “Segar, asam dan pedas,” komentarku sambil mencolekkan jambu air pada cobek. “Iya,” komentarnya singkat.

Baca juga: Iri Hati Sang Merpati – Oleh Heru Prasetyo (Suara Merdeka, 06 Agustus 2017)

Makan petis sambil menikmati pemandangan yang memesona di belakang rumah Yanti. Penat menjadi hilang. Tadi di sekolah kami berjibaku dengan pelajaran yang membuat pikiran menjadi mumet. Mana udara kian menyengat. Kini raib seketika. Angin sepoi-sepoi menebak nyiur kelapa yang berada di tepi tebing. “Aku sering duduk di sini bersama Ibu sambil menikmati indahnya pemandangan ini. Biasanya sore hari sembari makan cemilan,” beritahunya.

Sepulang dari rumahnya aku langsung mengambil buku gambar dan pensil. Mulai menggambar pemandangan indah yang tadi kulihat. Hobiku menggambar pemandangan. “Bogus sekali gambarnya.” adikku kagum. Setelah diwarnai gambar pemandangan tersebut kian menarik dan seolah nyata. Seakan-akan hidup. “Ya bagus sekali. Kamu terinspirasi dari mana? Dari film kartun yang pernah dilihat di televisi ya?” tangan ibu meraih buku gambar. Pemandangan di belakang rumah Yanti begitu memesona. Kapan-kapan aku akan berkunjung lagi ke sana. ***

 

Gischa Nadila Rahma. Kelas IV, SDN I Gereba, Desa Nanggerang, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis 46252.

Arsip Cerpen di Indonesia