Musuh Bebuyutan

Karena Noni tidak muncul-muncul dalam waktu lama, aku pun meyakini dia memang sudah dimangsa burung-burung itu. Tapi, anehnya, aku tidak bersedih. Bahkan aku merasa senang. Merasa bebas. Lalu, aku mendengar suara melontarkan pertanyaan: Buat apa memiliki kebebasan kalau tubuhmu tidak bisa bergerak? Aku tidak tahu dari mana suara itu berasal. Pertanyaan itu benar sekali. Aku pun berpikir keras, mencari cara agar tubuh bisa bergerak. Pada saat berpikir itulah aku mendengar salah satu dari burung itu berkata: Salam, Tuan. Dia menyapaku. Terus terang aku terkejut. Bukan karena suara burung itu, melainkan karena burung itu bisa bicara. Dan itu semakin melengkapi keyakinanku, burung-burung itu bukanlah burung sembarangan. Burung-burung itu adalah burung kiriman. Pasti Marda yang mengirim. Lalu burung itu bicara lagi.

Baca juga: Zikir Sunyi Perempuan yang Merindukan Kakbah – Cerpen Yaya Marjan (Media Indonesia, 12 Agustus 2018)

“Saya Ababil, dan empat kawan saya ini adalah panglima-panglima saya. Pasukan saya banyak.”

Betapa kagetnya aku saat burung itu menyebut nama. Membuat aku bertanya-tanya, apakah benar burung kecil dengan bentuk tubuh aneh ini adalah Ababil? Kami pun terlibat dalam percakapan panjang.

“Untuk apa kamu datang ke sini?” tanyaku.

“Mengambil jantung Anda,” jawab burung yang mengaku sebagai Ababil itu. Melototlah mataku. Aku pun bepikir kalau mereka juga sudah melahap jantung Noni. Gawat, batinku.

“Untuk apa jantungku kamu ambil?” tanyaku lagi.

“Untuk diberikan kepada anjing-anjing neraka. Mareka sangat senang memakan jantung manusia macam Anda ini,” jawab burung itu.

Baca juga: Kambing yang Jatuh dari Langit – Cerpen Anas S Malo (Media Indonesia, 26 Agustus 2018)

“Kamu pasti bergurau,” tegasku.

“Tidak, saya tidak sedang bergurau,” tegas burung itu.

“Siapa yang memberi perintah kepadamu?” tanyaku.

“Tuhan,” jawabnya lugas.

“Tuhan yang mana?” tanyaku mencecar.

“Tuhan Anda, Tuhan saya, Tuhan sekalian alam,” jawabnya lagi.

“Mustahil Tuhan memberi perintah semacam itu kepadamu. Kamu bukan malaikat, nabi, atau rasul. Kamu cuma penghuni udara yang jika mati akan menjadi debu dan tak dikenang lagi,” tandasku.

Arsip Cerpen di Indonesia